MuhammadiyahLamongan.com – SD Muhammadiyah 1 Karanggeneng (SD Musaka) turut memeriahkan Kemah Ceria Pandu Athfal (CPA) 2026 tingkat SD/MI se-Kabupaten Lamongan yang berlangsung pada Jumat–Ahad (23–25 Oktober 2026).
Kegiatan ini diselenggarakan di Lapangan Tlogo Ploso, Payaman, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, dengan mengusung tema “Dengan Semangat Pandu Athfal, Raih Keceriaan dan Tumbuhkan Kepemimpinan”.
Salah satu agenda yang menarik perhatian peserta adalah pentas seni (pensi). Mendapatkan urutan kelima, SD Musaka tampil dengan mini teatrikal tematik dan musikalisasi puisi berjudul “Negeriku Indonesiaku”.
Penampilan tersebut bukan sekadar hiburan di tengah kegiatan perkemahan. Melalui perpaduan drama, peragaan, dan puisi, murid-murid SD Musaka menyampaikan pesan mendalam tentang kondisi lingkungan Indonesia yang menghadapi berbagai ancaman akibat ulah manusia.
Mini teatrikal tematik “Negeriku Indonesiaku” dikemas dalam tiga babak yang menggambarkan persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Babak pertama, menampilkan peragaan kebakaran hutan yang menggambarkan kerusakan alam dan ancaman terhadap kehidupan makhluk hidup. Kobaran api dalam cerita menjadi simbol betapa besarnya dampak ketika manusia lalai menjaga kelestarian lingkungan.
Babak kedua, mengangkat persoalan banjir akibat sampah plastik. Peragaan tersebut menunjukkan bagaimana kebiasaan membuang sampah sembarangan dapat menyumbat saluran air, merusak lingkungan, dan mengancam keselamatan masyarakat.
Sementara itu, babak ketiga menggambarkan praktik penebangan hutan secara liar yang mengakibatkan hilangnya kawasan hijau dan rusaknya habitat berbagai makhluk hidup.
Ketiga babak tersebut kemudian diperkuat dengan musikalisasi puisi yang menggambarkan jeritan Ibu Pertiwi di tengah kerusakan alam. Melalui rangkaian pertunjukan ini, para murid mengajak penonton untuk merenungkan kembali hubungan manusia dengan lingkungan yang menjadi tempat mereka hidup.
Suasana pentas seni berubah menjadi ruang perenungan ketika murid-murid SD Musaka mulai memainkan perannya. Peragaan kebakaran hutan, banjir akibat sampah plastik, dan penebangan hutan secara liar menghadirkan gambaran kerusakan lingkungan yang terasa dekat dengan kenyataan.
Penonton tampak menyimak jalannya pertunjukan dengan saksama. Perhatian mereka tertuju pada setiap adegan yang diperagakan para murid. Ketika musikalisasi puisi tentang kondisi Ibu Pertiwi dilantunkan, suasana semakin khidmat. Kata demi kata membawa pesan tentang alam yang terluka dan tanggung jawab manusia untuk menjaganya.
Perpaduan teatrikal dan puisi menjadikan penampilan SD Musaka bukan hanya tontonan, melainkan juga sarana edukasi yang menyentuh kesadaran. Pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan disampaikan dengan bahasa seni yang sederhana, tetapi sarat makna.
Melalui penampilan tersebut, murid-murid SD Musaka membuktikan bahwa anak-anak pun dapat mengambil bagian dalam menyuarakan kepedulian terhadap persoalan lingkungan.
Salah satu guru SD Musaka, Lia Novita Sari, menjelaskan bahwa pemilihan mini teatrikal tematik sebagai penampilan dalam CPA 2026 berangkat dari nilai-nilai kepanduan Hizbul Wathan (HW) yang tidak hanya menekankan kepedulian terhadap sesama, tetapi juga kecintaan terhadap alam.
“Sebagai anak Pandu Athfal, selain mencintai sesama, anak-anak juga harus mencintai alam. Melalui teatrikal ini, harapan kami dapat menggugah rasa empati dan cinta tanah air, sehingga anak-anak menyadari tanggung jawab moral untuk menjaga dan memulihkan alam bersama,” tuturnya.
Menurutnya, pendidikan karakter tidak cukup disampaikan melalui nasihat di dalam kelas. Anak-anak perlu mendapatkan pengalaman belajar yang memungkinkan mereka memahami persoalan, merasakan dampaknya, dan menyadari peran yang dapat mereka lakukan.
Melalui seni, murid belajar menyampaikan gagasan, bekerja sama, membangun keberanian, serta menumbuhkan kepekaan terhadap persoalan sosial dan lingkungan.
Dari panggung kecil di bumi perkemahan, SD Musaka menanamkan pesan besar: alam bukan warisan yang boleh dihabiskan, melainkan amanah yang harus dijaga. Semoga semangat Pandu Athfal terus tumbuh menjadi keberanian untuk peduli, ketulusan untuk bertindak, dan komitmen untuk mewariskan Indonesia yang lebih lestari kepada generasi mendatang.
Penulis Apriliana Rosidatul Islamiyah Editor Lim