MuhammadiyahLamongan.com- Agama Islam mengajarkan umatnya untuk tidak bersikap, berpikir, dan bertindak tanpa ilmu. Setiap keputusan semestinya lahir dari pengetahuan yang benar, pertimbangan yang matang, serta kesadaran terhadap akibat yang ditimbulkannya. Karena itu, membangun masyarakat yang berilmu bukan sekadar pilihan, melainkan bagian penting dari amanah keagamaan.
Al-Qur’an memberikan peringatan yang tegas “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. (QS. Al-Isra’: 36)
Ayat tersebut mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak boleh mudah mengikuti informasi, pendapat, atau keputusan tanpa dasar pengetahuan. Di tengah derasnya arus informasi, media sosial, dan berbagai persoalan kehidupan yang semakin kompleks, pesan ini menjadi semakin relevan.
Rasulullah Saw juga bersabda “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan memahamkannya tentang agama.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya pemahaman keagamaan sebagai tanda kebaikan yang dikehendaki Allah. Ilmu bukan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi menjadi dasar dalam memahami realitas dan menentukan tindakan yang tepat.
Dalam konteks Muhammadiyah, semangat tersebut seharusnya menjadi karakter utama gerakan. Muhammadiyah perlu terus meneguhkan dirinya sebagai komunitas berilmu, yaitu komunitas yang menjadikan ilmu sebagai landasan dalam berpikir, berdakwah, mengelola organisasi, serta merespons berbagai persoalan masyarakat.
Menjadi komunitas berilmu tidak berarti hanya memiliki banyak orang berpendidikan tinggi. Lebih dari itu, ilmu harus melahirkan kemampuan untuk mengurai persoalan dan menghadirkan solusi. Persoalan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, lingkungan, teknologi, ekonomi, keluarga, hingga perubahan sosial membutuhkan pendekatan yang berbasis data, kajian, pengalaman, sekaligus nilai-nilai Islam.
Tradisi baca, kaji, teliti, diskusi, dan tabayyun harus terus hidup dalam keluarga besar Muhammadiyah. Setiap persoalan tidak cukup dijawab dengan dugaan atau slogan. Diperlukan kemampuan membaca akar masalah, memahami konteks, mendengarkan berbagai pihak, dan merumuskan jalan keluar yang dapat diterapkan.
Dengan demikian, ilmu harus menjadi energi pembaruan Muhammadiyah. Ilmu yang berpadu dengan iman akan melahirkan kebijaksanaan, sedangkan ilmu yang diwujudkan dalam amal akan menghadirkan kemanfaatan.
Muhammadiyah tidak cukup hanya dikenal sebagai gerakan yang memiliki banyak amal usaha. Ia juga harus tampil sebagai gerakan yang mampu membaca zaman, memahami persoalan, dan menawarkan solusi.
Inilah pentingnya membangun komunitas berilmu: agar dakwah tidak berhenti pada nasihat, tetapi mampu menjawab kebutuhan nyata umat dan masyarakat.
Berilmu untuk memahami persoalan, beriman untuk menentukan arah, dan beramal untuk menghadirkan perubahan.
Penulis: Fathurrahim Syuhadi, Editor: Main