Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

Nikah Itu Mudah dan Murah: Teladan dari Seorang Kader Muda Muhammadiyah

*) Oleh : Wasis Budiono
Wakil Ketua MPID PDM Lamongan

MuhammadiyahLamongan.com – Di tengah tren pernikahan yang makin mahal dan seremonial yang kian berlebihan, mengambil kisah Gian Siwanda justru memilih jalur yang jarang ditempuh. Ia membuktikan bahwa menikah tidak harus ribet, tidak harus mahal, dan justru bisa menjadi lebih bermakna ketika dilakukan dengan sederhana.

Sebagai seorang manager di salah satu mall oleh-oleh terbesar di Lamongan, Gian bukanlah sosok yang kekurangan secara finansial. Tapi ia memutuskan untuk melangsungkan akad nikah di garasi rumah, tanpa pelaminan, tanpa pesta, tanpa resepsi. Hanya akad yang sah secara agama dan negara, dengan suasana hangat dan penuh doa dari orang-orang terdekat,

“Saya tidak ingin pernikahan menjadi beban. Saya ingin menjalaninya dengan tenang, tanpa tekanan sosial, dan tetap dalam nilai-nilai Islam,” ungkap Gian kepada redaksi.

Prosesi lamaran pun dilakukan secara sederhana. Hanya keluarga inti yang hadir, tanpa hantaran berlebihan atau rangkaian acara yang ribet. Baginya, yang terpenting adalah kejelasan niat dan restu orang tua.

 “Yang penting itu sah, halal, dan diniatkan ibadah. Tidak perlu dibuat rumit kalau kita bisa mulai dari yang sederhana,” tambahnya.

Gian merupakan anggota aktif Pemuda Muhammadiyah, kader Tapak Suci Putera Muhammadiyah, serta bagian dari Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU). Baginya, memilih untuk menikah secara sederhana bukan hanya keputusan pribadi, tapi juga bagian dari tanggung jawab moral sebagai kader.

“Saya ingin menunjukkan bahwa anak muda Muhammadiyah bisa jadi pelopor perubahan budaya. Kita bisa hidup sesuai tuntunan Islam, tanpa ikut-ikutan tren boros dan pamer,” katanya.

Nikah itu Mudah dan Murah

Alih-alih menyewa gedung atau menyusun anggaran resepsi ratusan juta, Gian dan istrinya justru fokus menyiapkan kehidupan setelah menikah: komunikasi, kesiapan mental, dan membangun visi rumah tangga Islami.

“Kalau harus menunggu cukup dana untuk resepsi mewah, mungkin saya belum menikah sampai sekarang. Padahal menikah itu justru harus dipermudah,” tegasnya.

Menjadi Teladan di Tengah Arus Konsumtif

Kisah Gian Siwanda sebagai contoh nyata bahwa nilai-nilai Muhammadiyah dapat dibawa ke kehidupan praktis. Bahwa sederhana itu bukan berarti kurang. Bahwa keberkahan tidak datang dari dekorasi atau catering, tapi dari niat dan akhlak.

Semoga kisah ini menjadi pemantik semangat bagi para kader muda Muhammadiyah untuk tidak ragu melangkah ke jenjang pernikahan. (*)

Editor Lim

6
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Limba Air Wudhu, Perlukah Kita Manfaatkan ?

Next Post

International Summer Course 2025, Hari ke-2 Angkat Peran Strategis Desa Wisata

Read next

Persahabatan

Sangat mungkin kata dalam Bahasa Indonesia persahabatan ini berasal dari kata (kalimat) Bahasa Arab…
maslahul-falah
0
Share