MuhammadiyahLamongan.com- Hari Guru Nasional (HGN) yang diperingati setiap tanggal 25 November 2025, menjadi moment penting dan refleksi bersama bagi para guru di Indonesia, tidak terkecuali bagi para guru Muhammadiyah. Maka penting bagi para guru Muhammadiyah se-Indonesia memperhatikan isi pidato Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Didik Suhardi, Ph.D yang disampaikan pada Selasa (25/11/2025).
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh
Yang saya hormati:
Para guru dan tenaga kependidikan serta para siswa Muhammadiyah yang saya banggakan.
Pertama-tama, izinkan saya menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh guru Muhammadiyah yang dengan penuh kesabaran, keikhlasan,
dan dedikasi, terus mengabdi, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan meningkatkan kualitas pengajaran serta peradaban di seluruh pelosok negeri.
Para guru Muhammadiyah tidak hanya hadir di kota besar, tetapi juga di desa terpencil, wilayah pesisir, dataran tinggi, bahkan daerah yang sulit dijangkau. Di tempat-tempat itulah cahaya pendidikan Muhammadiyah tetap menyala, dipelihara oleh guru-guru yang bekerja
tanpa pamrih demi masa depan bangsa.
Hari ini kita memperingati Hari Guru Nasional dengan mengobarkan semangat “guru hebat Muhammadiyah pembangun peradaban bangsa”. Sejarah panjang Muhammadiyah memang membuktikan bahwa guru adalah pilar utama yang membangun fondasi intelektual, moral, dan sosial bangsa Indonesia.
Sejak 1912, ketika Kiai Haji Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah, pendidikan menjadi jantung gerakan pembaruan. Amal usaha pendidikan Muhammadiyah hadir sebagai jawaban
atas kebutuhan umat untuk mengejar ketertinggalan, memajukan akal budi, dan meraih martabat kemanusiaan.
Para guru Muhammadiyah telah menjadi pembawa obor pencerahan yakni melalui mengajarkan ilmu, menanamkan nilai, dan membentuk karakter generasi yang beriman, berilmu, dan berkemajuan.
Karena itu, ketika kita mengobarkan semangat “guru hebat Muhammadiyah pembangun peradaban bangsa” kita sebenarnya sedang memotret peran nyata guru Muhammadiyah sejak awal berdirinya Republik ini. Mereka bukan hanya mengajar, tetapi membangun
masyarakat, merawat keberagaman, dan menanamkan semangat kebangsaan.
Namun, tantangan ke depan tidak semakin mudah. Transformasi teknologi, dinamika sosial, dan kebutuhan kompetensi global menuntut guru untuk meningkatkan kapasitas secara berkelanjutan. Di sinilah guru Muhammadiyah memiliki mandat baru sekaligus peran strategis dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua.
Untuk itu guru Muhammadiyah perlu, pertama, memperkuat Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Di tengah derasnya arus informasi dan kompleksitas persoalan dunia
modern, siswa membutuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Guru Muhammadiyah harus menggerakkan pembelajaran yang mendorong:
1. pemahaman konseptual yang mendalam,
2. kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah,
3. kepekaan sosial dan kesadaran diri,
4. pengalaman belajar yang kontekstual, kolaboratif, dan penuh makna.
Pembelajaran Mendalam adalah kontribusi nyata guru Muhammadiyah untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas akademik, namun juga cerdas spiritual.
Kedua, guru Muhammadiyah perlu mengintegrasikan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA)
dalam kurikulum pembelajaran. Kita memasuki era ketika kecerdasan buatan mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan. Karena itu, literasi digital dan KKA harus menjadi bagian
penting dari kompetensi siswa.
Guru Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk:
1. mengenalkan computational thinking secara bertahap,
2. memanfaatkan KKA sebagai alat bantu pembelajaran,
3. mengajarkan etika penggunaan teknologi sesuai nilai Islam,
4. serta mendorong siswa menjadi inovator, bukan sekadar konsumen teknologi.
Dengan penguasaan KKA, siswa Muhammadiyah dapat menjadi generasi yang kompetitif secara global, namun tetap berpijak pada moralitas dan kemaslahatan.
Ketiga, guru Muhammadiyah perlu mengokohkan Pendidikan Karakter sebagai fondasi teknologi yang maju membutuhkan karakter yang kuat. Di sinilah keunggulan guru Muhammadiyah: membangun manusia utuh yang unggul dalam ilmu, kokoh dalam akhlak, dan peduli pada kemanusiaan.
Pendidikan karakter yang harus terus diperkuat meliputi:
1. kejujuran dan amanah,
2. Disiplin dan tanggung jawab,
3. Empati dan kepedulian sosial,
4. Penguatan growth mindset, yaitu sikap mental yang membuka diri untuk terus belajar, mengembangkan potensi, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan
5. Kemampuan kerja sama dalam keberagaman,
6. Keteguhan dalam nilai-nilai Islam berkemajuan.
Keteladanan guru Muhammadiyah harus tetap menjadi metode pendidikan paling kuat yang pernah ada dalam sejarah
Ketiga agenda utama ini hanya akan berhasil jika guru mendapatkan dukungan menyeluruh. Maka dari itu, menjadi kewajiban pemerintah, pimpinan persyarikatan, satuan pendidikan, serta masyarakat untuk:
1. Menyediakan pelatihan yang berkelanjutan
2. Memperkuat literasi digital dan infrastruktur sekolah,
3. Menciptakan ekosistem pendidikan yang ramah, aman dan menumbuhkan,
4. Memastikan kesejahteraan dan perlindungan profesi guru,
5. Serta saling mendukung dan membantu untuk tumbuh bersama sesama AUM Pendidikan
Tidak adil jika kita meminta guru membangun kualitas bangsa, jika kita tidak membangun kualitas lingkungan kerja dan ekosistem pendidikan yang positif.
Sebagai penutup, izinkan saya sekali lagi menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada seluruh guru Muhammadiyah di seluruh penjuru Indonesia. Bapak dan Ibu adalah
penjaga pencerahan. Bapak dan Ibu adalah pewaris perjuangan Kiai Dahlan. Dari tangan Bapak dan Ibu lahir generasi bangsa yang berakhlak, berilmu, dan siap menghadapi masa depan.
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, kekuatan, ketabahan, dan keberkahan bagi seluruh guru Muhammadiyah di mana pun berada. Aamiin.
Editor: Ma’in