MuhammadiyahLamongan.Com- Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-48, telah usai. Muktamar ini resmi dibuka oleh Presiden Republik Indonesia, Ir H Joko Widodo, Sabtu (19/11/2022) di Stadion Manahan Solo.
Dan resmi di tutup oleh Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia (RI) Prof. Dr Ma’ruf Amin, Ahad (20/11/2022) di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Kiprah Selama Satu Abad
Dalam pidatonya di pembukaan, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi mengatakan, Muktamar ke 48 Muhammadiyah mengambil tema ‘Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta’.
Menurut Haedar Nashir, Muhammadiyah dalam memajukan kehidupan bangsa bukanlah akan. Tetapi telah dan terus berkiprah selama satu abad lebih dalam lintasan pergerakannya.
“Melalui berbagai amal usaha dan dakwah kemasyarakatan yang mencerdaskan dan mencerahkan. Mulai dari pusat kota, hingga pelosok-pelosok desa. Muhammadiyah hadir tiada henti melayani negeri,” ujarnya.
Dalam perjalan selama satu abad lebih inilah, kata Ketua 1 PP IPM periode 1983- 1986 ini, Muhammadiyah terus berkiprah, bekerja, dan berkeringat dalam memajukan kehidupan bangsa.
“Kini dan kedepan perjuangan Indonesia semakin tidak ringan, disamping jejak dan prestasi keberhasilan,” sambungnya.
Arus Globalisasi
Kemudian, Pria yang pernah menjadi Sekretaris PP Muhammadiyah periode 2000- 2005 ini menambahkan, Indonesia menghadapi arus globalisasi, modernisasi abad ke 21, revolusi iptek, serta perkembangan gio politik ekonomi, dan daya global yang sangat dinamis dengan segala masalah dan tantangannya.
“Muhammadiyah menyakini bahwa bangsa Indonesia dapat menjadi negara yang maju, adil dan makmur,” katanya.
Muhammadiyah percaya dapat menyelesaikan masalah-masalah dan tatangan berat yang di hadapinya.
Optimisme ini lahir, kata Haedar Nashir, karena Indonesia memiliki sejumlah modal penting dan strategis untuk menjadi negara besar. Seperti sumber daya manusia dan sumber daya alam yang potensial yang di anugrahkan Tuhan.
Menurutnya, kuncinya ialah bagaiamana mengurus Indonesia dengan baik dan benar, sebagaiamana yang di mandatkan oleh pendiri-pendiri Indonesia.
“Disertai dengan perjuangan yang sungguh-sungguh, kebersamaan dari semua pihak,” tuturnya.
Semoga, harap Prof Haedar—sapaan akrabnya— Muktamar kali ini menjadi muktamar yang bermartabat, muktamar uswah hasanah, muktamar yang berkemajuan, dan muktamar yang merekat ukhuwah. Sebagaiamana lagu Muktamar ‘Derap Berkemajuan’.
Penulis: Alfain Jalaluddin Ramadlan