MuhammadiyahLamongan.com – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA) menggelar Seminar Pembelajaran Digital di Sekolah Dasar bertema “Pembelajaran Digital di Sekolah Dasar sebagai Bekal Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) Mahasiswa PGSD”. Kegiatan ini berlangsung di Auditorium Budi Utomo Lantai 3 UMLA, Selasa (6/1/2026), pukul 08.30–10.30 WIB.
Acara diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara Yuliatin, mahasiswa PGSD semester I, dilanjutkan pembacaan Gita Widya (GWI) oleh Fatihul Haldin, mahasiswa PGSD semester I. Suasana semakin khidmat saat seluruh peserta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Muhammadiyah yang dipandu oleh dirigen Maghfirotul, mahasiswa PGSD semester I.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan Dekan Fakultas Sains, Teknologi, dan Pendidikan (FSTP) UMLA, Eko Handoyo, S.Kom., M.Kom., yang sekaligus membuka secara resmi seminar tersebut. Dalam sambutannya, Eko menekankan pentingnya penguasaan pembelajaran digital bagi calon pendidik di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
“Pembelajaran digital menjadi sangat relevan untuk dipelajari, khususnya bagi mahasiswa PGSD sebagai calon guru. Seiring perkembangan zaman dan teknologi yang semakin canggih, mahasiswa harus mampu mengemas pembelajaran digital serta menyikapinya secara bijak sebagai pendidik masa depan,” ujarnya. Sambutan tersebut ditutup dengan jargon khas PGSD, “ASIIK…”, yang disambut antusias oleh para peserta.
Sesi inti seminar menghadirkan narasumber utama Dr. Shoffan Shoffa, S.Pd., M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Surabaya. Seminar dipandu oleh moderator Aisyah, mahasiswa PGSD semester I, dan dibuka dengan jargon penuh semangat, “Siap belajar!”
Dalam pemaparannya, Shoffan menegaskan bahwa mahasiswa PGSD tidak seharusnya memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) hanya sebagai sarana untuk sekadar lulus. Menurutnya, AI perlu digunakan secara cerdas dan bertanggung jawab guna meningkatkan kompetensi, kualitas pembelajaran, serta kesiapan mahasiswa menjadi guru profesional di era digital.
Seminar berlangsung aktif dan interaktif melalui sesi tanya jawab. Beberapa pertanyaan disampaikan oleh Lusnadia dan Dika Nur, mahasiswa PGSD semester I, yang menyoroti peran guru dalam mengintegrasikan teknologi secara bermakna dalam pembelajaran.
Kegiatan seminar ditutup oleh moderator dengan pesan reflektif, “Di era digital, teknologi bukan tujuan utama pendidikan. Guru tetap menjadi kunci yang menuntun teknologi agar bermakna bagi peserta didik,” pungkasnya. (*)
Penulis Nova Aquila Salsabila Cahyono. Editor Fathan Faris Saputro.