MuhammadiyahLamongan.com – Dewan Kerabat Hizbul Wathan Qabilah KH. Mas Mansoer SMA Muhammadiyah 4 Lamongan (Fourmula) menggelar kajian Ramadan bertema “Teologi Al-Ma’un sebagai Etos Filantropi Ramadan” di lingkungan sekolah, Jumat (27/2/2026). Kegiatan ini menghadirkan narasumber Ustaz Dzaki Herli Mahendra yang menekankan pentingnya nilai syukur dan kepedulian sosial sebagai bagian dari pengamalan iman.
Dalam pemaparannya, Dzaki yang juga Wakil Presiden Mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Lamongan mengutip pesan Al-Qur’an tentang kewajiban bersyukur atas nikmat Tuhan. Ia menegaskan bahwa rasa syukur tidak cukup diucapkan secara lisan, melainkan harus diwujudkan melalui pemanfaatan nikmat, seperti mata dan tangan, untuk melakukan kebaikan. Menurutnya, sikap kufur terhadap nikmat justru membawa konsekuensi berat sebagaimana peringatan Ilahi.
Ia juga menjelaskan konsep Teologi Al-Ma’un yang digagas oleh Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Gagasan tersebut lahir dari keprihatinan terhadap kondisi sosial masyarakat yang dilanda kemiskinan dan ketidakpedulian. Teologi itu menekankan bahwa agama tidak hanya berbicara tentang ibadah, tetapi juga tanggung jawab sosial untuk memanusiakan sesama.
Dzaki menuturkan praktik filantropi merupakan wujud nyata nilai Al-Ma’un dalam kehidupan sehari-hari. Ia mencontohkan kegiatan bakti sosial, berbagi takjil, hingga penggalangan dana Ramadan sebagai bentuk implementasi ajaran tersebut. Menurutnya, bulan suci menjadi momentum terbaik karena pahala kebaikan dilipatgandakan.
Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama manusia. Prinsip habluminallah dan habluminannas, katanya, harus berjalan beriringan agar ibadah tidak berhenti pada aspek spiritual semata. Nilai ini dinilai relevan ditanamkan kepada pelajar agar tumbuh kepekaan sosial sejak dini.
Kegiatan yang berlangsung tersebut juga dimaknai sebagai proses pembentukan karakter. Dzaki menyebut Ramadan sebagai “sekolah kehidupan” karena melatih pengendalian diri, bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan perilaku buruk. Ia berharap pesan kajian dapat tertanam dalam diri peserta sehingga melahirkan generasi yang beriman sekaligus berempati sosial. (*)
Penulis Fathan Faris Saputro