MuhammadiyahLamongan.com – SMA Muhammadiyah 11 Brangsi, Kecamatan Laren, Lamongan, menyelenggarakan Forum Ta’aruf dan Orientasi Siswa (Fortasi). Pada hari pertama dengan semangat kekeluargaan dan nuansa religius, Kegiatan ini dipusatkan di Masjid Sekolah SMA Muhammadiyah 11 Brangsi, Senin (14/07/2025).
Dalam kegiatan ini, siswa baru memadati lingkungan sekolah, bukan untuk memulai pelajaran, melainkan untuk mengikuti kegiatan Forum Ta’aruf dan Orientasi Siswa (Fortasi) yang berlangsung meriah dan penuh semangat. Berbagai agenda menunggu peserta FORTASI, termasuk pengenalan sekolah, nilai-nilai ke-Islaman, ke-Muhammadiyahan, Ke IPM an serta pembentukan karakter unggul siswa.
Pada Materi Fortasi Hari Pertama Mengundang Sekretaris Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Lamongan, As’ad Fauzuddin Khunaifi. dalam materi ia menyampaikan spirit Ke IPM an pada peserta didik baru SMA Muhammadiyah 11 Brangsi,
“IPM adalah organisasi otonom Muhammadiyah yang diberi keleluasaan mengatur rumah tangganya sendiri secara mandiri, tanpa intervensi pihak lain. Namun, kemandirian itu tetap dalam koridor ideologis Muhammadiyah: berpihak pada kebenaran dan menjalankan misi dakwah di kalangan pelajar,” ujarnya dalam pembukaan materi.
Ia menjelaskan bahwa, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) berdiri secara nasional pada 18 Juli 1961 dalam Konferensi Pemuda Muhammadiyah di Surakarta. Pendirian ini lahir dari kebutuhan akan wadah kaderisasi pelajar Muhammadiyah secara khusus, setelah sebelumnya pernah ada organisasi pelajar seperti Siswo Projo (1919) dan Gabungan Keluarga Pelajar Muhammadiyah (GKPM) pada 1926.
Pada 18 November 1992, IPM sempat berganti nama menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) karena regulasi pemerintah Orde Baru yang mewajibkan OSIS sebagai satu-satunya organisasi pelajar sekolah. IRM kemudian memperluas jangkauannya ke luar sekolah, merangkul santri, remaja masjid, hingga anak jalanan. Nama IPM kembali digunakan pada 28 Oktober 2008 dalam Muktamar XVI IRM di Solo, sebagai penegasan fokus kaderisasi pelajar Muhammadiyah di era Pasca-Reformasi.
Dalam pemaparannya, ia juga menyampaikan semboyan IPM yang diambil dari QS al-Qalam ayat 1: Nuun, demi pena dan apa yang dituliskannya Menurutnya, semboyan ini menekankan pentingnya tradisi literasi, ilmu pengetahuan, dan pemikiran kritis dalam gerakan pelajar Muhammadiyah. Peserta Fortasi juga dikenalkan pada nilai-nilai dasar IPM, yaitu ketauhidan, keilmuan, kekaderan, kemandirian, dan kemasyarakatan.
Nilai-nilai ini menjadi pilar pembentukan kader IPM yang tidak hanya kuat secara ideologi dan intelektual, tetapi juga memiliki komitmen sosial dan kepemimpinan yang tangguh. Selain menjelaskan sejarah dan tujuan,
As’ad juga membedakan antara IPM dan OSIS. IPM berlandaskan Islam dan dakwah, menjangkau pelajar di dalam dan luar sekolah Muhammadiyah, sementara OSIS bersifat netral ideologi dan terbatas ruang geraknya dalam satuan pendidikan formal.
Kegiatan Fortasi ini diharapkan dapat menjadi gerbang awal bagi siswa baru untuk mengenal lebih dekat gerakan IPM serta terlibat aktif dalam dinamika organisasi pelajar Muhammadiyah. IPM hadir tidak hanya untuk membentuk pribadi unggul, tetapi juga menyiapkan pemimpin masa depan yang berintegritas.
Penulis Mohammad Mujibur Rohman Editor Lim