MuhammadiyahLamongan.com – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sukodadi menyelenggarakan sholat Idul Adha di halaman Masjid Darussalam Sukodadi pada Senin (17/6/2024). Sholat tersebut dipimpin oleh Ustad Anggun Imanto, pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Lamongan, yang bertindak sebagai imam sekaligus khotib.
Dalam khotbahnya, ia menjelaskan perbedaan dalam penentuan tanggal 10 Dzulhijjah 1445 H. Ia menyebutkan bahwa beberapa umat Muslim melaksanakan Sholat Idul Adha pada hari Ahad (16/6/2024), berdasarkan wukuf di Arafah pada Sabtu (15/6/2024). Sementara itu, Muhammadiyah melaksanakan sholat pada Senin, mengacu pada metode hisab. Menurutnya, perbedaan ini merupakan hal yang lumrah selama didasarkan pada dalil dan ilmu.
Ia juga menguraikan dua metode penetapan bulan Hijriyah: matlak global dan matlak lokal. Matlak global didasarkan pada penglihatan hilal di mana saja di bumi, sedangkan matlak lokal bergantung pada penglihatan hilal di wilayah setempat. Perbedaan penetapan tanggal 10 Dzulhijjah antara Muhammadiyah dan Arab Saudi disebabkan oleh penampakan hilal di Arab Saudi pada malam Jum’at, yang menjadikan tanggal 1 Dzulhijjah jatuh pada hari Jum’at. Sebaliknya, wilayah timur, yang tidak melihat hilal pada malam itu, mengistikmalkan bulan Dzulqo’dah menjadi 30 hari, sehingga tanggal 1 Dzulhijjah jatuh pada hari Sabtu.
Dalam penjelasannya, ia menyebut bahwa kedua metode ini memiliki dasar yang kuat dalam dalil. Muhammadiyah telah memutuskan melalui MUNAS Majelis Tarjih pada 13-15 Februari 2024 di Pekalongan untuk menggunakan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT), yang akan diterapkan pada 1446 H.
“Muhammadiyah saat ini menggunakan matlak lokal, namun suatu saat nanti akan beralih ke matlak global,” tambahnya. Lebih lanjut, ia menjelaskan dasar penggunaan matlak lokal dari hadist yang diriwayatkan oleh sahabat Quraib r.a. mengenai penentuan awal Ramadan di wilayah Syam dan Madinah, yang menunjukkan perbedaan penglihatan hilal di berbagai tempat. Hal ini mengakibatkan puasa dimulai pada hari yang berbeda di dua wilayah tersebut.
“Wilayah Indonesia mengistikmalkan Dzulqo’dah sehingga Idul Adha dilaksanakan pada hari Senin ini, yang berbeda dari Makkah,” jelasnya. Ia juga menjelaskan tentang matlak global yang akan menjadi dasar bagi Muhammadiyah di masa depan. Menurutnya, bila hilal terlihat di wilayah barat sementara wilayah timur belum melihatnya, maka esoknya dianggap sebagai tanggal 1. Ini didasarkan pada hadist A’rob yang mengatakan bahwa satu penglihatan hilal sudah cukup untuk menentukan awal bulan.
Di akhir khotbah, ia menekankan pentingnya menghargai perbedaan dalam pelaksanaan ibadah seperti ini. Ia mengajak umat Muslim untuk saling menghormati dan memahami bahwa perbedaan tersebut didasarkan pada ilmu dan dalil yang kuat. (*)
Reporter Dini Fatrisia Hasniati. Editor Fathan Faris Saputro.