MuhammadiyahLamongan.com – Momentum Syawal dimanfaatkan Ikatan Guru ’Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) Cabang Lamongan untuk menggelar kegiatan halalbihalal dan kajian yang sarat makna. Kegiatan tersebut berlangsung di PAUD ’Aisyiyah Cabang Turi, Kecamatan Turi, pada Rabu (15/4/2026), dalam suasana hangat, penuh kekeluargaan, dan semangat kebersamaan.
Kegiatan ini diikuti oleh para guru PAUD ’Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) dari berbagai wilayah, di antaranya Turi, Lamongan, dan Sarirejo. Kehadiran para pendidik tersebut menjadi bukti kuatnya semangat ukhuwah sekaligus komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini.
Selain sebagai ajang silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi diri pasca-Ramadan untuk memperbaiki niat dan memperkuat kembali semangat dalam mendidik. Nilai-nilai kebersamaan yang terbangun diharapkan mampu menjadi energi positif bagi para guru dalam menjalankan peran mereka di lingkungan pendidikan.
Dalam sambutannya, Marikah selaku perwakilan Majelis PAUD Dasmen Cabang Lamongan menegaskan bahwa halalbihalal bukan sekadar tradisi berjabat tangan dan saling memaafkan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana “rekonstruksi hati” untuk membersihkan diri dari prasangka buruk serta memperkuat kembali langkah perjuangan dalam persyarikatan.
“Halalbihalal bukan hanya sekadar berjabat tangan, tetapi melahirkan prasangka baik yang menghubungkan ukhuwah dan langkah perjuangan persyarikatan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa momentum Syawal merupakan saat terbaik untuk kembali pada fitrah. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, guru memiliki peran strategis dalam membentuk karakter anak sejak usia emas (golden age), yang menjadi fondasi utama kehidupan mereka di masa depan.
“Pada usia inilah kita mengenalkan Allah sebagai Zat Yang Maha Segalanya. Pendidikan tidak hanya berfokus pada kecerdasan, tetapi harus diawali dengan penanaman akhlak dan etika,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Marikah mengingatkan bahwa nilai-nilai dasar yang harus ditanamkan kepada anak sejak dini meliputi pengenalan tauhid, pembiasaan akhlak mulia, serta penguatan nilai-nilai Islam sebelum anak memasuki fase kedewasaan.
“Mengenalkan Allah sebagai Yang Esa, belajar akhlak sebelum kecerdasan, dan belajar Islam sebelum dewasa,” tegasnya.
Melalui kegiatan ini, para guru PAUD ABA diharapkan semakin kuat dalam menjalankan perannya sebagai pendidik generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual serta berakhlak mulia. (*)
Penulis Novita Dwi Nur Hidayah. Editor Fathan Faris Saputro.