Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

Menyibak Ketimpangan Pendidikan Desa, Kader IMM Al-Iskandariyah UMLA Turun Langsung ke Gabus Turi

MuhammadiyahLamongan.com – Kegiatan Darul Arqam Dasar (DAD) VI PK IMM Al-Iskandariyah Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA) tidak hanya berfokus pada penguatan materi di dalam ruangan. Para peserta juga diterjunkan langsung ke lapangan melalui praktik analisis sosial (ansos) pada Sabtu (18/4/2026). Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Gabus, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, dengan mengangkat isu kesenjangan akses dan kualitas pendidikan, baik formal maupun nonformal di masyarakat desa.

Para peserta DAD VI dibagi menjadi empat kelompok, yang masing-masing didampingi fasilitator untuk melakukan observasi dan wawancara langsung dengan masyarakat setempat. Kegiatan ini bertujuan melatih kepekaan sosial kader IMM dalam membaca realitas yang terjadi di lingkungan masyarakat secara faktual dan mendalam.

Dalam pelaksanaannya, penulisan laporan difokuskan pada hasil temuan Kelompok 1 sebagai representasi proses kegiatan di lapangan. Pendekatan ini dipilih untuk memberikan gambaran komprehensif terkait pelaksanaan analisis sosial tanpa mengurangi esensi keseluruhan kegiatan yang dilakukan oleh seluruh kelompok.

Kelompok 1 melakukan wawancara dengan salah satu tenaga pendidik, Murjianti, S.Pd., yang berprofesi sebagai guru taman kanak-kanak (TK) di Desa Gabus, Kecamatan Turi. Ia telah mengabdikan diri selama 11 tahun mengajar di PAUD dan satu tahun di TK. Wawancara tersebut menggali berbagai aspek, mulai dari kegiatan belajar mengajar, proses pembelajaran, kondisi sekolah, karakteristik peserta didik, hingga kendala yang dihadapi selama mengajar.

Hasil wawancara menunjukkan bahwa proses pembelajaran di tingkat TK dilakukan dengan pendekatan yang menyesuaikan usia dan perkembangan anak. Penekanan diberikan pada aspek dasar, seperti kognitif, motorik, dan sosial. Namun, dalam praktiknya, masih terdapat berbagai tantangan, baik dari segi keterbatasan sarana dan prasarana maupun kondisi peserta didik yang beragam.

Kondisi sekolah di desa juga memperlihatkan adanya keterbatasan yang menjadi salah satu faktor penyebab kesenjangan kualitas pendidikan dibandingkan wilayah perkotaan. Hal ini menjadi perhatian penting dalam upaya pemerataan pendidikan, khususnya di kawasan pedesaan.

Melalui kegiatan analisis sosial ini, peserta DAD VI tidak hanya memahami teori, tetapi juga menyaksikan langsung realitas di masyarakat. Interaksi dengan warga lokal memberikan pengalaman nyata bagi kader dalam memahami persoalan yang ada, sekaligus melatih kemampuan analisis serta empati sosial.

Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam proses kaderisasi IMM, yang tidak hanya mencetak kader unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Melalui pengalaman tersebut, kader IMM diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang peka terhadap permasalahan masyarakat serta berkontribusi nyata dalam bidang pendidikan dan sosial. (*)

Penulis Nova Aquila Salsabila Cahyono. Editor Fathan Faris Saputro.

0
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Mahasiswa UMLA Edukasi Siswa SMA Muhammadiyah 10 Sugio, Tekankan Pentingnya Penggunaan Antibiotik Secara Tepat

Next Post

Menggali Akar Pendidikan Desa, Kader IMM Al-Iskandariyah UMLA Temukan Peran Kunci Pemerintah Desa

Read next
0
Share