Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

Cermin Budi dalam Kata: Memaknai Tata Krama dari Bahasa Jawa

*) Oleh : Piet Hizbullah Khaidir (Sekretaris PDM Lamongan)

MuhammadiyahLamongan.com -Di tengah pusaran zaman yang serba cepat dan pragmatis ini, kita sering kali mendewakan efisiensi waktu saat berkomunikasi. Kita ingin pesan tersampaikan dengan kilat, kadang tanpa tedeng aling-aling.

Perlahan, kebiasaan ini membuat kita lupa bahwa bahasa sebenarnya bukan sekadar alat tukar informasi belaka. Lebih dari itu, bahasa adalah detak jantung dari kesantunan, cerminan kedewasaan emosi, dan wujud paling jujur dari karakter seseorang.

Pernahkah kita merenungkan sejenak, mengapa kita perlu repot-repot menata sikap dan tutur kata? Jawabannya: melalui lisan yang terjaga dan kepekaan rasa, kita sebenarnya sedang merawat harmoni sosial.

Adab adalah ruang luas yang mencegah gesekan antarkepala. Yaitu, cara kita merangkul keberadaan orang lain, yang pada akhirnya menjadi cara kita merawat martabat diri sendiri. Di Indonesia, salah satu guru terbaik untuk mempelajari seni menjaga harmoni ini adalah tradisi dan filosofi bahasa Jawa.

Seni Menghargai lewat Tingkatan Bahasa

Ada satu pedoman tak tertulis yang sanggup menampar arogansi kita, yaitu: pantang hukumnya meninggikan diri sendiri. Larangan menggunakan krama inggil untuk diri sendiri. Secanggih apa pun penguasaan kosakata halus seseorang, ia dilarang keras memakai krama inggil untuk menceritakan aktivitasnya sendiri.

Contoh urusan keseharian yang sangat lekat dengan kita, yakni makan. Saat berbicara dengan orang yang lebih tua dan hendak pamit makan, kita tidak pantas memakai kata dhahar (krama inggil) untuk diri sendiri.

Banyak orang yang belum akrab dengan budaya Jawa kerap mengira bahwa sistem undha-usuk atau tingkatan bahasa adalah tatanan yang kaku, seolah sengaja diciptakan untuk membedakan status dan kasta. Padahal, jika kita mau menyelami keindahannya, ruh dari sistem ini murni tentang ngajeni—seni menghargai dan memanusiakan sesama

.Secara rileks, kita memakai bahasa ngoko saat bercengkerama dengan teman sebaya atau mereka yang lebih muda. Lalu ada krama madya, jembatan bahasa santun sehari-hari yang menjauhkan kita dari kesan kaku namun tetap menjaga adab. Di puncak piramida kesantunan, ada krama inggil, bahasa bernilai rasa tinggi yang kita persembahkan sebagai bentuk bakti dan hormat kepada mereka yang lebih sepuh.

Sistem ini tidak dirancang untuk membelenggu, melainkan untuk mengasah radar empati. Sebelum bibir mengucapkan satu patah kata, batin kita dididik untuk “membaca” siapa lawan bicara kita, menakar situasi, dan meletakkan ego pada proporsi yang pas. Adab sejatinya adalah tentang tutur kata. Tentang menjaga lisan.

Merendahkan Hati, Memuliakan Sesama

Ada satu pedoman tak tertulis yang sanggup menampa arogansi kita, yaitu: pantang hukumnya meninggikan diri sendiri. Larangan menggunakan krama inggil untuk diri sendiri. Secanggih apa pun penguasaan kosakata halus seseorang, ia dilarang keras memakai krama inggil untuk menceritakan aktivitasnya sendiri.

Contoh urusan keseharian yang sangat lekat dengan kita, yakni makan. Saat berbicara dengan orang yang lebih tua dan hendak pamit makan, kita tidak pantas memakai kata dhahar (krama inggil) untuk diri sendiri.

Kita wajib merendah dengan krama madya dan berucap, “Kula badhe nedha” (Saya mau makan). Untuk kawan akrab, kita bisa berucap, “Aku arep mangan.”

Namun, ketika kita mempersilakan orang lain, kepada siapa pun itu, kita justru dianjurkan memuliakan mereka dengan lisan krama inggil: “Mangga, dhahar.”

Pembiasaan yang seolah sepele ini diam-diam membunuh sifat sombong di dalam dada. Kita dilatih untuk terus mengerdilkan keakuan, menekan egoisme, dan menyediakan ruang seluas-luasnya di hati untuk menghargai orang lain.

Selarasnya Ucap dan Laku

Meski tutur halus sangat diagungkan, tradisi Jawa memiliki alarm peringatan yang tajam tentang sinkronisasi tutur dan laku. Oleh karena itu, manisnya bibir tak akan ada artinya jika tidak selaras dengan laku perbuatan.

Ada sindiran keras bagi mereka yang perilakunya muntuk-muntuk—berbicara sehalus sutra, merunduk seolah penuh tawadhu dan kerendahan hati di hadapan orang lain—tetapi batinnya menyimpan niat culas. Parahnya lagi, kelicikan ini sering mewujud dalam karakter buruk nyilih tangan gawe .

Ada sindiran keras bagi mereka yang perilakunya muntuk-muntuk—berbicara sehalus sutra, merunduk seolah penuh tawadhu dan kerendahan hati di hadapan orang lain—tetapi batinnya menyimpan niat culas. Parahnya lagi, kelicikan ini sering mewujud dalam karakter buruk nyilih tangan gawe gepuk (meminjam tangan orang lain untuk memukul).

Manusia dengan karakter nyilih tangan gawe gepuk ini tak ubahnya seorang pengecut bertopeng pahlawan. Di depan kita, ia melempar senyum dan kata-kata manis membuai. Namun di belakang kita, ia melempar batu sembunyi tangan, memanipulasi atau mengadu domba orang lain untuk menjatuhkan kita demi menjaga “citra suci” dirinya sendiri tetap tak ternoda. Demi kepentingan sesaatnya. Inilah puncak dari pengkhianatan tata krama: ketika kesopanan lisan hanya diperalat untuk menutupi niat jahat.

Perjalanan Sunyi ke Ruang Batin

Pada akhirnya, belajar bahasa Jawa bukanlah semata menghafal jejak kosakata kuno warisan masa lalu. Ini adalah perjalanan sunyi ke dalam ruang batin kita sendiri.

Lewat setiap lapisan kata, kita diajak menajamkan kepekaan, membunuh kesombongan, dan memastikan agar lisan dan perbuatan berjalan beriringan. Lewat tata krama yang utuh, kita tidak sekadar melestarikan budaya, tetapi juga tengah menjaga nyala kemanusiaan itu sendiri.

Editor Lim

1
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Wujudkan Lulusan Berdaya Saing, Siswa SMK Muhammadiyah 6 Modo PKU di PT BISI International Tbk

Read next
0
Share