Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

Ketika Ratusan Guru Muhammadiyah Brondong Diajak Kembali Mengajar dengan Hati

MuhammadiyahLamongan.com – Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM) Brondong mendadak riuh, Sabtu (11/7/2026). Langkah kaki ratusan pendidik berdatangan dan memenuhi ruangan.

Mereka datang dari beragam jenjang pendidikan. Ada guru pendidikan anak usia dini (PAUD) yang sehari-hari akrab dengan celoteh polos anak-anak, guru sekolah dasar yang tekun mendampingi tumbuh kembang murid, hingga pendidik tingkat SLTA Muhammadiyah se-Cabang Brondong yang bergulat dengan dinamika remaja.

Kursi-kursi segera terisi penuh. Di tengah ruangan itu, tersimpan kerinduan yang sama: kembali menyalakan semangat sebagai pendidik yang tidak sekadar mengajar, tetapi juga menginspirasi.

Kerinduan itulah yang menjadi napas Sarasehan Pendidikan yang diinisiasi Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Brondong.

Kegiatan yang berlangsung di GDM Brondong tersebut mengangkat tema ”Menjadi Guru Inspiratif, Mengajar dengan Hati, Mendidik dengan Keteladanan”.

Bukan sekadar forum pertemuan para pendidik, sarasehan itu menjadi ruang refleksi untuk menengok kembali makna menjadi seorang guru.

Hadir sebagai pembicara utama, Prof. Dr. H. Biyanto, M.Ag., Staf Ahli Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Republik Indonesia sekaligus Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur.

Di hadapan ratusan peserta, termasuk jajaran PCM, Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA), organisasi otonom Muhammadiyah, pimpinan ranting Muhammadiyah, dan unsur pondok pesantren, Biyanto mengajak para guru menyelami kembali esensi profesi pendidik.

Mengajar dengan Hati

Dalam paparannya, Biyanto mengingatkan bahwa di tengah perkembangan era digital yang serba cepat, tugas guru berpotensi terjebak dalam rutinitas dan formalitas administratif.

Menuntaskan kurikulum, memenuhi jam mengajar, hingga mengejar capaian angka di atas kertas terkadang menyita perhatian. Padahal, pendidikan memiliki dimensi yang jauh lebih dalam.

”Guru yang biasa-biasa saja hanya bisa memberi tahu. Guru yang baik menjelaskan. Namun, guru yang hebat dan inspiratif adalah mereka yang mampu menyentuh hati dan memberi teladan,” ujar Biyanto.

Menurut dia, kecanggihan teknologi tidak serta-merta dapat menggantikan ketulusan dan perhatian seorang guru kepada murid. Tatapan penuh kepedulian, pendampingan yang tulus, serta doa seorang pendidik memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan tumbuh seorang anak.

Ketika seorang guru mengajar dengan hati, ilmu tidak berhenti sebagai informasi yang didengar. Nilai-nilai yang disampaikan dapat tumbuh dan menetap dalam diri peserta didik.

”Anak-anak kita mungkin akan lupa apa yang kita ajarkan di papan tulis. Namun, mereka tidak akan pernah lupa bagaimana cara kita memperlakukan mereka saat mengalami kesulitan,” katanya.

Keteladanan di Tengah Banjir Informasi

Suasana ruangan kian hening ketika pembahasan beralih pada pentingnya mendidik melalui keteladanan.

Di tengah derasnya arus informasi, anak-anak dinilai tidak lagi kekurangan pengetahuan. Tantangan yang muncul justru terletak pada kebutuhan akan figur yang dapat dijadikan teladan.

Melalui sarasehan tersebut, para guru Muhammadiyah di Brondong diajak merefleksikan kembali perannya. Guru bukan sosok yang disegani semata-mata karena hukuman atau aturan, melainkan dihormati karena ilmu, sikap, dan keluhuran akhlaknya.

Menjadi teladan berarti berani memulai kebaikan sebelum meminta peserta didik melakukannya.

Pesan-pesan itu seperti menjadi cermin bagi para peserta untuk melihat kembali perjalanan panjang mereka di ruang kelas. Sejumlah peserta tampak larut menyimak materi yang disampaikan.

Pulang Membawa Tekad Baru

Sarasehan pendidikan itu tidak berhenti ketika pemateri menutup paparannya. Ada semangat yang hendak dibawa pulang oleh para guru menuju sekolah dan ruang kelas masing-masing.

Bukan hanya sertifikat, para pendidik diharapkan membawa komitmen baru untuk kembali mendampingi murid dengan ketulusan, kesabaran, dan keteladanan.

Sebab, menjadi guru inspiratif bukan semata-mata tentang seberapa banyak materi yang berhasil dituntaskan. Lebih dari itu, guru hadir melalui jejak nilai yang tertanam dalam kehidupan murid-muridnya.

Dari GDM Brondong, ratusan guru itu kembali diingatkan pada satu hal sederhana: pendidikan yang bermakna selalu bermula dari hati dan tumbuh melalui keteladanan. (*)

Penulis : Marmulik Hidayah | Editor : Fathan Faris Saputro

1
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Pesan Prof Biyanto untuk Guru Muhammadiyah Brondong: Jadilah Teladan dan Penggerak Perubahan

Read next
0
Share