Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

Dari Priyayi ke Rakyat: Peran KH Ahmad Dahlan Memperluas Api Budi Utomo

MuhammadiyahLamongan.com- Setiap 20 Mei kita mengingat Budi Utomo. Di ruang-ruang sekolah, kantor, dan upacara bendera, tanggal itu disebut sebagai titik awal Kebangkitan Nasional. Tapi sejarah jarang berhenti pada satu nama dan satu tempat.

Pada 1908, segelintir priyayi terdidik di Jakarta memang menyalakan obor. Namun obor itu baru benar-benar membakar kesadaran bangsa ketika dibawa keluar dari ruang rapat STOVIA, masuk ke pesantren, sekolah rakyat, dan kampung-kampung. Orang yang membawa obor itu bernama K.H. Ahmad Dahlan.

Kalau Budi Utomo menyalakan api, maka K.H. Ahmad Dahlan yang memastikan apinya tidak padam di tengah rakyat.

Budi Utomo: Kebangkitan dari Ruang Kaum Terdidik

Tanggal 20 Mei 1908 menjadi penanda ketika dr. Sutomo dan kawan-kawan mendirikan Budi Utomo di Batavia. Tujuannya jelas: memajukan pendidikan, kebudayaan, dan kehidupan bangsa pribumi di bawah kolonialisme.

Gerakan ini penting. Untuk pertama kali, kaum pribumi terpelajar bersatu atas nama identitas bangsa, bukan lagi kedaerahan. Budi Utomo menjadi ruang bagi generasi priyayi Jawa yang bersekolah di lembaga Belanda untuk menyuarakan gagasan kemajuan.

Namun ada batasnya. Basis Budi Utomo masih sempit. Anggotanya adalah pegawai negeri rendah, guru, dan pelajar sekolah Eropa. Bahasa yang digunakan masih Jawa halus dan Belanda. Jangkauannya belum sampai ke petani di Lamongan, pedagang di Pasar Babat, apalagi santri di pesantren.

Kebangkitan saat itu lebih mirip kesadaran elit yang menunggu waktu untuk menetes ke bawah.

K.H. Ahmad Dahlan Masuk Panggung Sejarah

Empat tahun setelah Budi Utomo berdiri, tepatnya 18 November 1912, K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Yogyakarta. Ia melihat realitas yang berbeda dari ruang rapat priyayi.

Di depan matanya ada kemunduran umat Islam: pendidikan tradisional yang stagnan, praktik keagamaan yang bercampur takhayul, dan kemiskinan yang merata. Bagi Dahlan, kebangkitan bangsa tidak cukup dengan pidato dan organisasi. Ia harus dimulai dari pendidikan dan pelayanan sosial yang langsung menyentuh rakyat.

Muhammadiyah lahir bukan sebagai partai politik, melainkan gerakan tajdid—pembaruan. Dahlan membuka sekolah dengan sistem kelas, papan tulis, dan bangku. Ia mendirikan rumah sakit, panti asuhan, dan majelis tabligh. Semua dilakukan dengan metode modern, tapi berakar pada nilai Islam.

Di sinilah titik penting itu terjadi. Kebangkitan nasional mulai keluar dari ruang eksklusif priyayi.

Dari Eksklusif ke Inklusif: Perluasan Makna Kebangkitan

Perbedaan Budi Utomo dan Muhammadiyah bukan soal siapa yang lebih berjasa. Keduanya adalah mata rantai. Tapi K.H. Ahmad Dahlan melakukan tiga perluasan yang membuat kebangkitan benar-benar menjadi milik rakyat:

Pertama, perluasan bahasa dan pesan.

Budi Utomo banyak menggunakan bahasa Belanda dan Jawa halus yang hanya dimengerti kalangan terpelajar. K.H. Ahmad Dahlan memakai bahasa Melayu pasar dan dakwah langsung. Pesannya sederhana: kembali pada Al-Quran dan Hadis, jauhi kemunduran. Bahasa inilah yang dimengerti tukang becak, pedagang, dan santri.

Kedua, perluasan lembaga pendidikan.

Sekolah Muhammadiyah tidak menunggu murid datang dari kalangan elit. Ia dibangun di kampung, terbuka untuk anak pedagang dan petani. Sistemnya modern, tetapi tetap menanamkan akhlak. Sebelum 1945, jaringan sekolah Muhammadiyah sudah tersebar di Jawa, Sumatera, hingga Kalimantan.

Ketiga, perluasan ide kebangkitan.

Kalau Budi Utomo berbicara tentang “memajukan bangsa”, Muhammadiyah berbicara tentang “memajukan umat”. Kebangkitan tidak hanya politik dan ekonomi, tetapi juga moral dan spiritual. Inilah yang membuat gerakan Dahlan mudah diterima di akar rumput.

Dengan cara ini, api 1908 tidak hanya menyala di Jakarta. Ia berpindah ke Yogyakarta, Surabaya, Makassar, dan desa-desa kecil yang tidak pernah dijangkau rapat priyayi.

Relevansi untuk Pendidikan Hari Ini

Hari Kebangkitan Nasional 2026 menghadapkan kita pada tantangan yang tidak jauh berbeda. Kesenjangan akses pendidikan masih ada. Sekolah di kota besar dan di desa pelosok masih berbeda wajah. Banyak guru berjuang sendiri, sementara sistem berjalan lambat.

Di sinilah kita bisa belajar dari K.H. Ahmad Dahlan. Ia tidak menunggu kebijakan turun dari atas. Ia memulai dari apa yang ada di tangannya: satu langgar, beberapa anak kampung, dan keyakinan bahwa pendidikan bisa mengubah nasib umat.

Guru hari ini — utamanya guru-guru Muhammadiyah — adalah pewaris peran itu. Kebangkitan nasional tidak akan lahir dari upacara seremonial, tetapi dari kelas-kelas yang hidup, dari guru yang berani berinovasi, dan dari sekolah yang mau turun ke rakyat.

Penutup

Budi Utomo menyalakan lilin. K.H. Ahmad Dahlan menjadikannya obor yang dibawa ke seluruh penjuru negeri.

Kebangkitan Nasional bukan peristiwa yang selesai pada 20 Mei 1908. Ia adalah proses panjang yang terus hidup selama ada orang yang mau membawa semangat itu ke rakyat.

Selama masih ada guru dan pendidik yang mau turun, mengajar, dan menggerakkan seperti K.H. Ahmad Dahlan, maka api kebangkitan itu tidak akan pernah padam.

Penulis: Muhammad Said, Editor: Ma’in

0
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Menjemput Bahagia di Jalan Dakwah: Catatan Hangat dari Safari Pemikiran Islam PCM Brondong

Read next

Persahabatan

Sangat mungkin kata dalam Bahasa Indonesia persahabatan ini berasal dari kata (kalimat) Bahasa Arab…
maslahul-falah

Sejarah Itu Tidak Murah

(Kilas Balik Perjalanan Panjang Studi S-3) Bagian 1 Pradana Boy ZTF Dosen Universitas Muhammadiyah Malang PADA…
0
Share