Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

+1 202 555 0180

Have a question, comment, or concern? Our dedicated team of experts is ready to hear and assist you. Reach us through our social media, phone, or live chat.

Sejarah Itu Tidak Murah

(Kilas Balik Perjalanan Panjang Studi S-3)
Bagian 1

Pradana Boy ZTF
Dosen Universitas Muhammadiyah Malang

PADA Hari Raya Idul Fitri tahun ini (1437 H/2016 M), ketika semua orang berangkat mudik ke kampung halaman, saya dan keluarga justru “mudik” ke negara tetangga. Ya, kami berangkat ke Singapura. Sesungguhnya, berat hati untuk melangkahkan kaki, terlebih kumandang takbir hari raya riuh rendah terdengar sepanjang jalan yang kami lalui menuju Bandar Udara Juanda, Surabaya, pagi hari setelah shalat Idul Fitri. Namun, meskipun berat, perjalanan itu harus terjadi. Karena hanya berselang dua hari setelah tanggal hari raya (06/07/2016) ini, saya akan menjalani sebuah ritual penting dalam kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun kehidupan akademik. Tanggal 8 Juli 2016, saya akan mengikuti wisuda sebagai tanda tuntasnya pendidikan doktoral saya di National University of Singapore (NUS). Di NUS, wisuda lazim disebut dengan Commencement.

Wisuda? Ya, wisuda. Barangkali bagi sebagian orang, wisuda hanya sebuah ritual perayaan; dan karena itu tidak terlalu penting untuk dihadiri. Meskipun tidak menganut prinsip yang se-ekstrem ini, saya pun pada awalnya cenderung untuk tidak menghadiri acara ini. Pertimbangannya adalah biaya. Pastilah sangat mahal menghadiri wisuda di Singapura. Apalagi dalam situasi hari raya seperti ini, ketika harga-harga tiket untuk berbagai moda transportasi meningkat drastis. Maka, sebelum membuat keputusan, saya berembug dengan isteri.

“Harus berangkat, Pa,” kata isteri saya. “Waktu kuliah S-2 dulu sudah tidak ikut wisuda, masa S-3 juga tidak ikut lagi. Ini sejarah dalam hidup kita, lho. Uang bisa dicari, tetapi momen penting dalam hidup, takkan terulang kedua kali,” kata isteri saya lagi.
“Tapi perjalanan ini pasti sangat mahal. Apa ya kita punya uang untuk berangkat?” saya agak ragu.
“Kalau begitu, Papa berangkat sendiri saja, asal wisuda ini tetap dihadiri dan momen penting ini tak terlewatkan.”
Mendengar pendapat isteri saya ini, saya spontan menjawab bahwa saya memilih untuk tidak pergi jika harus berangkat sendiri. Apa makna wisuda, jika hanya saya seorang diri yang hadir? Bukan hanya soal kebersamaan yang menjadikan saya enggan berangkat seorang diri, tetapi lebih dari itu, ini adalah sejarah. Ya, ini sejarah. Sejarah ini tidak saya ukir seorang diri. Sejarah ini terlukis di atas kanvas pengorbanan, pengertian dan ketulusan orang-orang terdekat dalam kehidupan saya. Sehingga tak mungkin saya merayakannya seorang diri. Sejarah ini harus dirayakan bersama-sama.

Singkat kata, perjalanan ke Singapura untuk wisuda akhirnya terlaksana. Tak terbilang jumlahnya pihak yang memungkinkan perjalanan ini terwujud. Kampus UMM tempat saya mengajar, memberikan bantuan yang sangat berarti bagi perjalanan ini. Di Singapura, tak terhitung pula teman dan sahabat yang memberikan bantuan sangat berarti. Perjalanan kami menjadi mungkin atas ketulusan hati Keluarga Mbak Meilan dan Mas Roy Hamsah Said yang merelakan rumah mereka kami tinggali selama beberapa hari. Tak hanya tinggal, kami juga memakai semua fasilitas yang ada di rumah itu. Hanya ucapan terima kasih yang bisa kami persembahkan. Allah adalah sebaik-baik pemberi balasan atas kebaikan keluarga ini.

Namun, telah tiba di Singapura dan mendapatkan tempat tinggal, bukan berarti persoalan selesai. Satu hari menjelang wisuda, kami memutuskan bahwa hanya saya yang akan masuk ke ruang wisuda. Bukan karena tidak ada undangan, tapi karena tidak mungkin isteri saya ikut masuk ke ruang wisuda dengan membawa tiga anak kami (10, 4 dan 2 tahun). Bulatlah rencana. Hanya saya yang akan masuk ruang wisuda, sementara isteri dan anak-anak anak menunggu di luar dengan menonton dari layar televisi yang tersebar di berbagai ruangan dan tempat strategis. Kurang syahdu memang. Tapi apa daya.

Namun, di tengah situasi itulah datang pertolongan. Seorang teman, Ninda Harahap namanya, menawarkan jasa baiknya untuk mengasuh anak-anak kami selama prosesi wisuda berlangsung. Subhanallah! Meskipun segan dengan tawaran itu, karena takut merepotkan orang lain, isteri saya tidak mungkin menolak tawaran yang penuh ketulusan itu. Maka, jadilah kami berdua berangkat menuju tempat wisuda. Sungguh, tanpa hati emas Mbak Ninda, begitu kami biasa memanggilnya, mustahil isteri saya bisa menyaksikan prosesi wisuda saya secara langsung. Kepada Allah sematalah kami berdoa, mudah-mudahan Allah memberikan balasan yang sesuai dengan amal kebajikan Mbak Ninda dan suaminya, Bang Lolotan, yang juga turut menyambut kami ketika hampir tengah malam kami datang ke rumah mereka untuk menjemput anak-anak kami yang telah tertidur pulas.
Dalam perjalanan menuju kampus NUS, saya menyadari bahwa ada dua keping undangan tamu yang saya terima, selain undangan untuk saya sebagai wisudawan. Sayang sekali, jika satu keping undangan lainnya ini tak terpakai. Maka saya mengusulkan kepada isteri agar undangan itu ditawarkan kepada teman-teman kami di Singapura, siapa tahu ada di antara mereka yang sedang memiliki waktu longgar. Maka melalui SMS, isteri saya menawarkan undangan itu kepada seorang kawan, Dyah J Suharto, namanya. Kami akrab memanggilnya Mbak Dyah. Meskipun hanya berselang dua setengah jam dari pelaksanaan acara, Mbak Dyah datang dan menemani isteri saya menyaksikan prosesi wisuda. Sungguh kebaikan Mbak Dyah sangat luar biasa dan tak mampu kami lukiskan dengan kata-kata. Tak hanya menemani isteri saya, usai wisuda, saya dihadiahi sebuah boneka bertopikan toga sebagai simbol kelulusan studi yang dijual di arena wisuda.

Wisuda digelar malam hari, dan waktu kami sama-sama hendak beranjak meninggalkan arena wisuda, jarum jam telah menunjukkan pukul 22.30. Kami segera beranjak meninggalkan ruangan dan bersiap menuju rumah Mbak Ninda untuk menjemput anak-anak. Kami memutuskan naik taksi. Tetapi deretan calon penumpang yang mengantri taksi demikian panjang. Mbak Dyah memberikan pertolongan dengan memesan taksi cepat, sehingga tanpa menunggu terlalu lama, taksi yang akan mengantar kami pun datang. Singkat kata, taksi yang mengantar kami menjemput anak-anak, dan taksi yang mengantar kami dari rumah Mbak Ninda menuju tempat kami menginap, telah dibayar oleh Mbak Dyah melalui transaksi cashless. Subhanallah! Kami tak mampu berkata apa-apa, hati kami hanya diselimuti keharuan oleh kebaikan yang ditunjukkan oleh para sahabat ini.

Sebelum ini, Mbak Dyah dan suami, Mas Charis Suharto, juga telah “merayakan” kelulusan ujian disertasi saya. Usai ujian disertasi, saya dan keluarga diundang makan bersama di sebuah restoran seafood “apung” yang sangat istimewa, terletak di sebuah selat antara Singapura dan Johor Bahru.
Usai wisuda, kami merencanakan untuk berkunjung ke rumah seorang dosen dan sekaligus sahabat saya di kawasan ujung timur Singapura. Dr. Azhar Ibrahim Alwee, namanya. Dr. Azhar adalah salah satu dosen di Jurusan di mana saya belajar, dan sangat banyak memberikan pertolongan pada kesulitan-kesulitan yang saya alami. Apalagi ini adalah hari raya, jadi sangat pas jika kami juga datang untuk bersambung rasa. Saya sangat dekat dengan Dr. Azhar. Demikian juga dengan keluarganya. Ibunya yang ramah selalu membuka pintu rumahnya untuk kami. Kami disambut dengan ramah. Tak ada jarak, tak ada kecanggungan.

Sungguh, berbagai kebaikan yang kami terima dari para sahabat ini telah menyentakkan kesadaran kami akan pentingnya berbuat kebaikan kepada siapa saja dan di mana saja. Rasanya malu. Belum banyak, atau bahkan sangat sedikit, kebaikan yang telah kami tebarkan, tetapi begitu berlimpah kebaikan yang kami terima dari berbagai pihak. Jika bukan karena sifat rahman dan rahim Allah SWT, manalah mungkin semua ini terjadi. (Bersambung)

0
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Di Tengah Guyuran Hujan, Musycab Bersama PCM, PCA , PC IPM Kembangbahu Berjalan Sukses

Next Post

50 Calon Siswa Ikuti Fortasi SMKM 6 Modo Yang Ceria

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Read next

Komunikasi 24 Jam

Macetnya komunikasi bisa berakibat fatal. Keenganan berkomunikasi menyebabkan lambanya distribusi keputusan…
Mohammad suud
0
Share