MuhammadiyahLamongan.Com- Pilihan diksi dalam judul ini tidak bermaksud mempertegas pilihan bahwa ketika membuka suatu kegiatan seremonial atau acara, warga Muhammadiyah “harus” memulainya dengan bacaan Basmalah atau membaca Al-Fatihah. Tulisan ini ingin membuka sejarah bagaimana KH. Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah membuka suatu acara. Penulis merujuk dalam tulisan ini yakni bersumber dari buku Cerita Tentang Kiai Haji Ahmad Dahlan: Catatan Haji Muhammad Sudja` yang diterbitkan oleh Penerbit Suara Muhammadiyah, September 2018.
Bagaimana kisahnya? Berikut kisahnya yang tertulis di halaman 111-114 di buku tersebut dengan sub judul Rapat Undangan Terbuka Muhammadiyah yang Pertama Kali. “Pada hari Sabtu malam Minggu terakhir dalam Desember 1912 Miladiyah, Muhammadiyah mengadakan rapat Undangan Terbuka untuk memproklamirkan berdirinya Persyarikatan Muhammadiyah, bertempat di Gedung Loodge Gebouw Malioboro. Dengan mengundang kurang lebih 150 orang yang dipandang perlu seperti tersebut dalam rencana di atas (lihat halaman sebelumnya, pen). Tetapi yang hadir sekitar 60-70 orang, termasuk yang tidak diundang.
Maklumlah memang kesadaran rakyat pada masa itu belum merata, bahkan masih nyenyak tidurnya. Rapat dipimpin oleh KH. Ahmad Dahlan dan dimulai pada jam 20.30 dengan mengucapkan selamat datang dan ucapan banyak terimakasih pada semua yang hadir baik yang diundang maupun yang tidak diundang, terutama para priayi dan saudara dari pengurus Boedi Oetomo yang telah membantu tenaga dan moral, selama Muhammadiyah mengajukan permohonan izin kepada Pemerintah Hindia-Belanda sampai berhasil.
Ucapan terimakasih pun disampaikan KH. Ahmad Dahlan kepada Sri Paduka Kanjeng Sultan Hamengku Buwono yang menyetujui berdirinya Muhammadiyah di negeri Yogyakarta. Mudah-mudahan Muhammadiyah dapat hidup subur dan dapat mencapai apa yang menjadi maksud berdirinya persyarikatan Muhammadiyah. Aamiin. “Sekarang rapat kami buka dengan mengucapkan Al-Fatihah.” Dok, suara ganden memukul meja pimpinan.
Lalu dipersilahkan Saudara Dwijosewoyo membacakan surat izin yang berupa Rechtpersoonlijkheid Muhammadiyah dan Anggaran Dasar Persyarikatan Muhammadiyah yang masih berbahasa Belanda dan diterjemahkan dengan bahasa daerah (bahasa Jawa), serta dengan penjelasannya, sehingga dapat dipahami oleh hadirin pada umumnya.
Kemudian KH. Abdullah Siraj tampil ke muka, sebelum mengucapkan doa, beliau ingin menyambut akan lahirnya Muhammadiyah karena sangat terharu, dan berdoa kepada Ilahi Rabbi mudah-mudahan lahirnya Muhammadiyah diberi usia yang panjang dalam bimbingan Tuhan serta dilindungi dan diberi petunjuk kepada jalan benar dan lurus. Amin.
Pimpinan mengucapkan banyak terimakasih kepada semua hadirin dan menutup rapat tersebut dengan membaca Al-Fatihah. Dok! suara hamer memukul meja pimpinan tanda bubar. Pada jam 23.30. ”Alhamdulillah rapat selesai dengan bahagia dan gembira tidak terhalang suatu apa.”
Dalam buku tersebut, terdapat ucapan “Sekarang rapat kami buka dengan mengucapkan Al-Fatihah.” Dok, suara ganden memukul meja pimpinan” dan “Pimpinan mengucapkan banyak terimakasih kepada semua hadirin dan menutup rapat tersebut dengan membaca Al-Fatihah. Dok! suara hamer memukul meja pimpinan tanda bubar. Pada jam 23.30”.
Memang hanya disebutkan Al-Fatihah saat membuka dan menutup rapat. Tidak secara detil dan lengkap penyebutannya: Surat Al-Fatihah. Namun, yang dimaksudkan nama Al-Fatihah maupun lebih lengkap Surat Al-Fatihah, (mungkin) pemahaman kita lebih tertuju pada Surat Al-Fatihah dalam Alquran.
Surat Al-Fatihah sendiri terdiri dari tujuh ayat. Walau ulama qiraat ada yang memulainya dengan Bismillahirrahmanirrahim (tanpa di transliterasikan sesuai kaidah) sebagai ayat pertama dan ada yang memulai ayat pertama adalah Alhamdulillahirabbilalamin (tanpa di transliterasikan sesuai kaidah).
Kisah rapat undangan terbuka perdana tersebut direkam dan ditulis dalam sebuah buku. Karena itu, catatan sejarah dalam buku tersebut menjadi bagian dan bahkan bukti dari sejarah berdirinya Muhammadiyah. Karena itu membaca sejarah (pada umumnya) mengajak kita (baca: warga Muhammadiyah) untuk bertindak bijaksana, berpikir positif dan menanamkan kesadaran literasi.
Sebagai kelanjutan dari pembuka bahwa “tulisan ini ingin membuka sejarah”, rangkaian akhir tulisan ini juga tidak disajikan kesimpulan mengenai “hukum membaca apa” ketika memulai suatu kegiatan seremonial. Para aktivis dan warga Muhammadiyah sendirilah yang akan memperkaya wawasan keilmuan tentang hal demikian ini.
Dalam hal ini, Muhammadiyah diharapkan untuk terus berijtihad sesuai dengan perkembangan zaman. Karena itu, keberadaan dan peran Majelis Tarjih dan Tajdid menjadi ujung tombak bagi lahirnya produk-produk pemikiran keagamaan resmi Muhammadiyah.
Demikian bagian kecil yang ditulis M. Amin Abdullah dalam bukunya Fresh Ijtihad Manhaj Pemikiran Keislaman Muhammadiyah di Era Disrupsi (Suara Muhammadiyah 2019, 85). Wallahu a’lam.
Penulis: Maslahul Falah
Sekretaris PCM Laren Lamongan
Koordinator Divisi Hisab dan Falak Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Lamongan