Oleh M Husnaini

Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PCM Solokuro

Tidaklah sekelompok orang duduk dan berzikir kepada Allah Azza wa Jalla,” tutur Rasulullah sebagaimana dikutip Muslim, “kecuali malaikat mengelilingi mereka, rahmat meliputi mereka, ketenangan turun kepada mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan malaikat.”

ahli-dzikir
ilustrasi

Simaklah, sekali lagi, keutamaan jemaah zikir dalam hadis di atas. Ada empat prestasi menggiurkan yang didapatkan. Pertama, malaikat berdatangan kepada jemaah zikir. Kedua, kasih sayang Allah melingkupi hidup mereka. Ketiga, ketenangan hadir dalam batin mereka. Keempat, ini yang paling keren, Allah memamerkan jemaah zikir di hadapan penduduk langit: malaikat.

Tidakkah kita semua menginginkan capaian super gemilang itu? Ketimbang kongko, dan ngobrol ke sana kemari tidak jelas, bukankah sebaiknya kita aktif dalam majelis zikir? Ia bisa berwujud pengajian agama, kuliah umum, halaqah ilmu, atau apa saja namanya. Yang terpenting ia harus menjadi sarana kita untuk dapat ingat dan dekat kepada Allah.

Sekarang, majelis-majelis mulia semacam itu sangat meruah. Mulai dari yang maya hingga nyata. Silakan pilih. Jangan sampai kita ini tidak pernah punya waktu untuk suatu kebagusan, sementara untuk suatu tindakan sia-sia, selalu banyak waktu luang.

Ingat, Allah sangat bangga terhadap orang yang menghidupkan zikir. Yang selalu mengingat-Nya kapan saja dan di mana saja. Saking bangganya, hingga Allah memamerkannya di depan malaikat. Betapa hebatnya. Boleh jadi ia tidak terkenal di bumi, namun namanya cukup kondang di langit. Seluruh malaikat mengenal namanya, karena sering disebut-sebut Allah.

Selama ini, tidak sedikit dari kita sangat ingin terkenal di dunia, di mata manusia. Berjuta sarana ditempuh. Ikut audisi sana-sini. Melalui televisi dan media lainnya. Biaya mahal tidak menjadi soal. Kadang bahkan sampai menerabas rambu segalanya. Semua absah belaka, katanya. Asal hasrat diri terpenuhi: menjadi orang terkenal dan banyak penggemar.

Ada yang membagi strata manusia menjadi orang suci, orang alim, orang berpangkat, orang kaya, orang terkenal. Rupanya, di era sekarang, urutan paling atas ditempati orang terkenal. Maksudnya, kecintaan dan kekaguman kita, paling utama, tertuju kepada orang terkenal. Juga penghormatan kita. Disusul kemudian kepada orang kaya, orang berpangkat, orang alim. Kecintaan, kekaguman, dan penghormatan kepada orang suci cukup di urutan buncit.

Monggo buktikan. Keterkenalan atau popularitas kini memang menjadi berhala baru. Mengalahkan segalanya. Padahal ini sebatas terkenal di dunia, di mata manusia. Sangat lain nilai dan kualitasnya dibanding terkenal di mata Allah dan malaikat. Sebagaimana isyarat hadis yang kita kutip di atas.

Anda pernah mendengar kisah tentang Ubay bin Ka’ab? Ia seorang sahabat Anshar. Ahli dalam Al-Quran. Rasulullah pernah menjajarkannya dengan para sahabat utama. “Seorang dari umatku,” puji Rasulullah dalam riwayat Tirmidzi, “yang paling sayang terhadap umatku adalah Abu Bakar. Yang paling tegas dalam urusan perintah Allah adalah Umar. Yang paling mempunyai rasa malu adalah Utsman. Yang paling mengerti tentang halal dan haram adalah Muadz bin Jabal. Yang faham ilmu Faraid adalah Zaid bin Tsabit. Dan yang paling memahami Al-Quran adalah Ubay bin Ka’ab.”

Dan, suatu ketika, dalam riwayat Bukhari, Rasulullah mendatangi pria berjuluk Abu Mundzir Al-Anshari itu, lalu bersabda, Sungguh Allah memerintahkanku mengajarkan Al-Quran kepadamu.” Ubay bertanya, “Apakah Allah menyebutkan namaku kepadamu, Wahai Rasulullah?” Tersenyum, beliau menjawab, “Ya”. Ubay menegaskan, “Dan aku disebut di sisi Allah, pencipta alam raya?” Rasulullah menjawab, “Ya”.

Mendengar itu, seketika Ubay luruh, bercucuran air mata. Betapa bahagianya. Rasulullah mengenal dirinya bukan dari omongan manusia, namun dari sang pencipta manusia, pemilik jagat semesta. Tidakkah kita sangat iri kepada Ubay?

Berikut wasiat Ubay dalam kitab “Al-Hilyah”. Diceritakan, seseorang meminta wasiat kepadanya. “Jadikan Kitab Allah ini sebagai imam,” pesan Ubay. “Ridhalah terhadap hukum yang diputuskan Al-Quran. Sungguh Al-Quran itulah yang menjadikan Rasul kalian menguasai kalian. Al-Quran memberikan syafaat bagi yang mengamalkannya. Al-Quran adalah kitab yang ditaati. Di dalam Al-Quran kalian disebut, demikian pula orang-orang sebelum kalian dikisahkan. Al-Quran adalah pemutus perselisihan di antara kalian. Al-Quran adalah kisah tentang kalian dan orang-orang sesudah kalian.”

Bismillah. Berbekal asma Allah, semoga kita semua mampu menjadi pribadi-pribadi yang cekatan mengasup keberkahan di tengah kesibukan harian. Dengan selalu berzikir atau ingat kepada Allah, kita menjadi hamba-hamba yang dikenal, bahkan dibanggakan oleh Allah.

Baca Juga  Indonesia Siapa Punya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here