*) Oleh : Prof. Abdul Mu’ti Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI
MuhammadiyahLamongan.com – Prof. Abdul Mu’ti dalam tausiahnya menjelaskan kaitan erat antara ibadah qurban dalam Islam dengan ajaran Nabi Ibrahim AS, serta bagaimana praktik qurban di Indonesia mencerminkan nilai-nilai luhur.
Beliau menegaskan bahwa Nabi Ibrahim AS adalah seorang Muslim sejati, bukan Yahudi atau Nasrani, sebagaimana dibuktikan oleh berbagai syariat Islam yang diturunkan kepadanya, termasuk perintah untuk berkurban.
- Nabi Ibrahim AS sebagai Muslim Sejati
Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa Nabi Ibrahim AS bukanlah seorang Yahudi maupun Nasrani, melainkan seorang Muslim. Banyak syariat Islam, seperti sholat, haji, dan qurban, berakar dari ajaran Nabi Ibrahim AS, yang menunjukkan kelanjutan dan kesempurnaan ajaran Islam. - Penyebutan nama Nabi Ibrahim AS dalam sholawat, baik kepada Nabi Muhammad SAW maupun kepada keluarganya, menunjukkan penghormatan dan pengakuan atas peran sentralnya dalam sejarah kenabian.
Qurban sebagai Warisan Nabi Ibrahim AS
Perintah qurban kepada Nabi Ismail AS untuk disembelih, yang kemudian digantikan dengan domba, merupakan ujian keimanan yang luar biasa bagi Nabi Ibrahim AS.
Peristiwa ini menegaskan bahwa Islam meluruskan ibadah yang telah diselewengkan, yaitu larangan menyembelih manusia. Qurban dalam Islam bukan sekadar menyembelih binatang, melainkan sebuah bentuk ketaatan, pengorbanan, dan penyerahan diri kepada Allah SWT.
Makna dan Nilai Qurban dalam Konteks Modern
Arti Qurban secara harfiah berarti “mendekatkan diri” atau “persembahan”. Dalam konteks Islam, ini adalah ibadah yang dilakukan dengan menyembelih hewan ternak pada hari raya Idul Adha.
Nilai
- Ketaatan dan Ketundukan: Meneladani ketaatan Nabi Ibrahim AS kepada perintah Allah SWT.
- Pengorbanan:Kesediaan untuk mengorbankan harta benda demi meraih ridha Allah.
- Kepedulian Sosial: Membagikan daging qurban kepada fakir miskin dan mereka yang membutuhkan, menumbuhkan rasa empati dan solidaritas.
- Penegasan Identitas Muslim:Menunjukkan keislaman dan kepatuhan terhadap syariat.
Makna
- Meneguhkan Keimanan:Menguatkan keyakinan akan kebesaran Allah dan pentingnya ketaatan.
- Membersihkan Diri: Daging qurban yang sampai kepada Allah adalah ketakwaan, bukan dagingnya. Ini mengajarkan pentingnya niat yang ikhlas.
- Membangun Ukhuwah Islamiyah: Mempererat hubungan antar sesama Muslim melalui berbagi dan kebersamaan.
- Meninggalkan Legacy Positif: Berusaha memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi kemanusiaan, seperti yang dicontohkan oleh para nabi.
Praktik Qurban di Indonesia
Di Indonesia, qurban dipraktikkan dengan berbagai bentuk, mulai dari penyembelihan kambing oleh individu hingga patungan sapi oleh beberapa orang.
Ada juga praktik seperti “qurban sapi tujuh orang” yang merupakan bentuk iuran untuk membeli sapi yang lebih besar, yang menunjukkan fleksibilitas dalam pelaksanaan ibadah ini
Muhammadiyah, misalnya, memiliki ijtihad dalam pembagian daging qurban, seperti membuat rendang agar lebih tahan lama dan dapat menjangkau daerah terpencil.
Perbedaan antara qurban, dam (denda haji), dan akikah. Akikah lebih ditekankan sebagai kewajiban orang tua untuk anak, sementara qurban adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan).
Perbandingan dengan Tradisi Lain (Singgung Singkat):
Prof. Abdul Mu’ti menyentuh sedikit tentang praktik penyembelihan pada agama lain (misalnya Yahudi yang juga memiliki tradisi qurban) dan bagaimana Islam meluruskan praktik-praktik yang tidak sesuai syariat, seperti larangan menyembelih manusia.
Beliau juga menyinggung isu-isu kontemporer seperti penolakan qurban oleh aktivis hak binatang di Barat, yang kemudian direspon dengan konsep “spiritual slaughtering”.
Ibadah qurban adalah salah satu pilar penting dalam ajaran Islam yang berakar kuat dari teladan Nabi Ibrahim AS. Qurban bukan hanya ritual penyembelihan hewan, melainkan sebuah manifestasi ketaatan, pengorbanan, kepedulian sosial, dan penegasan identitas keislaman.
Dalam konteks Indonesia, praktik qurban menunjukkan adaptasi dan kreativitas umat dalam menjalankan ibadah ini, dengan tetap menjaga esensi dan nilai-nilainya.
Memahami makna, nilai, dan hikmah di balik qurban, dam, dan akikah, serta syukuran, akan memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana ibadah-ibadah ini berkontribusi pada pembentukan karakter individu dan masyarakat yang bertakwa, peduli, dan berakhlak mulia. Inti dari semua ibadah ini adalah ketakwaan dan keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah SWT.