MuhammadiyahLamongan.com – Rencana Tindak Lanjut(RTL) Darul Arqam Dasar (DAD) 01 Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA), mengadakan acara Tadarus Ke IMM an yang ke tiga, pada hari Ahad, (15/8/2021) mulai 08:30 dan berakhir 11:00.
Acara yang dilaksanakan Via Zoom itu, dengan tema “Sukma Intelektualisme IMM”, dengan pemateri langsung dari penulis Buku Sukma Intelektualisme Afirmasi, Refleksi, dan Aksentuasi Ide Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, yaitu Immawan Bayujati Prakoso, Instruktur Madya DPD IMM DKI Jakarta tahun 2020 sampai sekarang.
Immawan Bayujati Prakoso menyambapaikan bahwa Sukma Intelektualisme merupakan, kritik atas cermin pribadi Intelektual atau Cendekiawan pribadi (dalam bait Mars IMM) yang kini (diamati) semakin sunyi, bahkan cenderung redup.
Etimologi Sukma, kata sukma sendiri sangat cocok untuk menampilkan wujud nyawa intelektual itu masih ada, hidup da menghidupkan, yang memiliki jiwa intelektual itu, dalam kepribadian kader IMM patut selalu dijaga, dan diaktualisasikan dengan kepribadian akhlak yang mulia.
Etimologi Intelektualisme, Intelegensia atau pemikiran atau Cendekiawan atau akademia, diartikan sebagai mengoptimalkan daya pikir melalui akal dalam rangka pencarian dan menjawab problematika berdasarkan ilmu(pengembaran Ilmu).
Sukma Intelektualisme menaruh perhatian tentang bagaimana nilai Intelektualisme dapat terjawantahkan dalam hati, sikap, dan perbuatan secara individu-kolektif.
Sukma Intelektualisme muncul dalam tiga corak yaitu, Afirmasi, Refleksi, dan Aksentuasi Ide.
Sukma Intelektualisme dimaknai sebagai bentuk perenungan mendalam tentang peneguhan nilai Ikatan sekaligus melacak format alternatif intelektuy Ikatan.
Alasan kemunculan Sukma Intelektualisme, pertama, tampil sebagai alat kontruksi kesadaran intelektual dengan melahirkan perkembangan narasi yang reflektif- transformatif. Hal tersebut didasarkan atas problematika dalam realitas personal kader, seperti tidak jarang menunjukkan sikap hidup yang terbelenggu dan terjadi ketidak seimbangan harapan atau cita perjuangan ikatan dengan realitas yang terjadi.
Yang kedua, sebagai wujud kesadaran seorang cendekiawan pribadi. Cendekiawan yang memiliki personal kompetensi yang khas. Personal khas yakni senantiasa menjada dan mengamalkan nilai Ikatan dalam kehidupanya.
Dalam upaya perwujudan Sukma Intelektualisme, terdapat proses diologis- partisipatoris. Proses ini menghendaki adanya itikad, motivasi, kesadaran,. Komitmen, konsisten, berkelanjutan.
Ujar Penulis Buku Sukma Intelektualisme
Di akhir penyampaianya beliau mengutip
perkataan Imam Al Ghozali yaitu ” Menubruk Ilmu adalah taqwa. Menyampaikan Ilmu adalah ibadah. mengulang-ulang ilmu adalah dzikir. mencari Ilmu adalah jihad. (Alfain Jalaluddin Ramadlan)