MuhammadiyahLamongan.com – Ketua Pusat Pengkajian Al Islam Ke Muhammadiyahan (PPAIK) Universitas Muhammadiyah Surabaya, Sholikhul Huda, menyebut identitas gerakan dakwah Pemuda Muhammadiyah seperti yang tertuang di Pasal 4 AD/ART Pemuda Muhammadiyah.

Sholikhul Huda mengatakan Pemuda Muhammadiyah mengembang amanah sebagai gerakan islam yang moderat, bukan sebagai gerakan islam garis kiri yang mengarah pada islam liberal ataupun islam garis kanan yang cenderung ekstrimis, melainkan sebagai islam yang wasathan atau tengah.

“Gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, harus dimaknai oleh Pemuda Muhammadiyah sebagai gerakan penyadaran bukan sebagai gerakan kekerasan ,” ujarnya pada saat Kajian Angkatan Muda Muhammadiyah Lamongan, Jum’at (15/12) malam, di Halaman Parkir Gedung Dakwah Muhammadiyah Lamongan.

Nahi munkar itu adalah sebuah penyadaran dengan proses yang panjang , Ketua Bidang Dakwah Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur ini menilai, kalau dengan cara kekerasan berujung pemaksaan memang akan mengubah dengan cepat, tapi menurutnya, perubahan itu tidak akan bertahan lama.

Baca Juga  Gerakan Filantropi IMM UMS

“Proses penyadaran yang dilakukan Muhammadiyah sudah tepat melalui bidang pendidikan dan kesehatan,” tegasnya sekali lagi.

Ditambahkan dia, sebagai gerakan keilmuan Pemuda Muhammadiyah harus mendorong sebagian kadernya fokus dunia intelektual. Meski seringkali terjadi mereka yang terjun di ranah tersebut, akan dihadapkan pada persoalan beda pandangan hingga di cap sebagai liberal.

Lebih lanjut, Sholikhul Huda mengungkapkan identitas gerakan dakwah Pemuda Muhammadiyah ialah gerakan sosial kemasyarakatan, kita harus mampu mengambil spirit KH. Ahmad Dahlan bahwa dakwah bukan sekedar banyak bicara tetapi dakwah harus memberi contoh dan bisa menjadi solusi persoalan yang dihadapi masyarakat.

Baca Juga  Adanya UU ITE, Hati-hati Bikin Posting di Sosmed

Di penghujung pemaparanya, Sholikhul Huda menyinggung bahwa sebagai gerakan kewirausahaan Muhammadiyah masih sebatas kuat pada tataran organisasi, tapi masih lemah dalan memberdayakan anggotanya. Saat ini pola usaha bukan lagi bersaing, tidak ada monopoli tapi berjejaring, bukan berdaya saing tapi daya sanding.

Dia berharap, Muhammadiyah harus mampu melakukan pembacaan dengan baik kondisi saat ini dan kedepanya, membangun pola gerakan harus bersinergi antar majelis dan lembaga, saling memberi sentuhan dakwah baik di bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi, pungkasnya. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here