muhammadiyahlamongan.com– Sebagai upaya membangun kesadaran literasi atau kemampuan membaca dan menulis di seluruh tingkatkan Hizbul Wathan (HW), Kwartir Daerah (Kwarda) HW Lamongan menggelar workshop literasi yang digelar Aula Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah (SMAM) Sedayulawas.
“Ini semua untuk mendorong, kader HW untuk membangun kesadaran dalam membaca dan menulis” kata Ketua Kwarda HW Lamongan, Fathur rohim, Minggu (4/11).
Dan, lanjutnya, Alhamdulillah dalam workshop literasi ini mendapatkan tulisan-tulisan puisi dari adik-adik yang bertema “berkema itu asyik” yang siap dijadikan buku antologi puisi.
Kegiatan workshop literasi diadakan pada hari kedua Jamda HW yang diikuti perwakilan peserta 1 Qobilah putra dan putrid.
Pada kesempatan tersebut, Fathan Faris Saputro, pegiat literasi, founder rumah baca Api Literasi Lamongan, memaparkan 6 cara membangun kesadaran literasi pada peserta yang mengikuti workshop literasi.
“Pertama, budayakan membaca di sekolah. Selama ini banyak sekali adik-adik menghabiskan waktu luang saat sekolah dengan bercanda gurau bersama teman-temannya. Maka membudayakan membaca merupakan langka awal” ungkap Fathan Faris Saputro, saat menjadi pemateri di Workshop Literasi tersebut.
Kedua adalah, lanjutnya, biasakan memberi hadiah berupa buku karena kebanyakan orang menghadiahkan suatu prestasi justru mengajak jalan-jalan.
“ Hal yang mendidik adalah menghadiahkan buku agar adik-adik bisa senang membaca” tegas Fathan Faris Saputro yang juga menegaskan yang ketiga adalah membiasakan menulis buku harian karena dengan sering menulis di buku harian akan kecanduan untuk menulis setiap harinya.
Sedangkan yang yang keempat hargai karya tulis. “Karena menghargai karya tulis bukan langsung menghadiahkan kado tetapi kita kalau membaca buku bagiamana kita mengulas apa yang kita baca tersebut, terus kita tulis lagi supaya kita selalu ingat apa yang kita baca” paparnya.
Berikutkan adalah membentuk komunitas baca. “ Di Indonesia ada sebanyak 1.000 lebih komunitas baca. “Kalau kita masuk didalamya, kita akan iri kepada teman-teman yang sering membaca, menulis, pintar berbicara. Kita lama-lama akan ikut” tegas Fathan Faris Saputro.
Dan yang ke-enam adalah menumbuhkan kesadaran membaca. “ Sekarang memang bumingnya budaya literasi tetapi kebanyakan lingkungan masyarakat ini malas sekali untuk membaca” urainya.
Fathan faris berpesan kepada adik-adik “tuangkan ide kamu dalam sebuah karya.” Maksud dari motto tersebut bagaimana dalam menjalani hidup kita punya karya yang abadi satu hal yakni dengan menulis.
Dan pada akhir penyampaian materi, Fathan faris berpesan agar peserta menuangkan ide dalam sebuah karya. “Maksudnya adalah dalam menjalani hidup kita harus punya karya yang abadi, diantarnya adalah dengan menulis” pungkasnya. (Fathur Rohim)