MuhammadiyahLamongan.com- Suara riuh rendah lantunan ayat suci terdengar syahdu dari Gedung Dakwah Muhammadiyah Brondong akhir pekan ini. Bukan sekadar pengajian rutin, suasana khidmat yang menyelimuti gedung tersebut adalah saksi bisu perjuangan 55 guru pejuang Alquran dalam menimba ilmu.
Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Brondong menggelar Diklat Standarisasi Guru Ngaji Metode Tilawati bagi TKA-TPA Muhammadiyah se-Cabang Brondong, Sabtu-Ahad (9-10/5/2026).
Ketulusan yang Melampaui Jarak
Acara ini menjadi momen emosional ketika Ketua Majelis Tabligh PCM Brondong, Ustad Lubis, menyampaikan sambutannya. Dengan suara bergetar penuh syukur, ia menyapa pemateri yang menempuh perjalanan jauh dari Gresik demi membagikan ilmu di tanah Brondong.
“Terima kasih atas langkah kaki Bapak pemateri. Dan untuk para guru ngaji, antusiasme Anda adalah energi bagi kami. Anda adalah penjaga benteng moral generasi muda kita,” ungkap Ustad Lubis dengan nada penuh apresiasi.
Lebih dari Sekadar Teknik Mengajar
Mengapa harus standarisasi? Mengapa harus Tilawati? Narasi besar di balik diklat ini bukan sekadar soal teknis administratif, melainkan tentang menanamkan cinta di hati anak didik.
Metode Tilawati yang diajarkan membawa nafas baru bagi dakwah di pesisir Brondong Lamongan ini:
Pertama: Nada yang Menyentuh Jiwa: Dengan irama yang lembut, Alquran tak lagi dipelajari dengan rasa takut, melainkan dengan kegembiraan. Guru diajak menyentuh hati santri sebelum menyentuh akalnya.
Kedua: Memuliakan Setiap Anak: Melalui teknik klasikal-privat, tidak ada lagi santri yang “tertinggal” atau merasa diabaikan. Setiap anak adalah istimewa, dan setiap lisan mereka berhak melafalkan firman Allah dengan benar.
Ketiga: Guru yang Terus Bertumbuh: Diklat ini menjadi cermin bagi para guru untuk kembali menghaluskan bacaan (tashih). Sebuah pengingat bahwa sebelum menyalakan pelita di hati santri, sang guru harus terlebih dahulu memastikan apinya menyala terang dalam dirinya sendiri.
Membangun Peradaban dari Balik Meja Mengaji
Harapan besar digantungkan pada pundak 55 peserta ini. Mereka bukan hanya pengajar, mereka adalah arsitek peradaban. Dengan standar kualitas yang mumpuni, TKA-TPA Muhammadiyah se-Cabang Brondong diharapkan menjadi oase yang menyejukkan.
“Kami ingin setiap huruf yang keluar dari lisan santri-santri di Brondong adalah huruf yang lahir dari bimbingan guru yang berkualitas dan tulus”, pungkas ustad Lubis.
Saat mentari terbenam di ufuk Brondong pada hari kedua diklat, para guru pulang bukan hanya membawa sertifikat, tapi membawa semangat baru, bahwa mengajar mengaji adalah profesi langit yang memerlukan bekal ilmu dan kelembutan hati yang tak bertepi.
Penulis: Amira, Editor: Ma’in
