Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

Hidup Menulis, Mati Ditulis

husnaini

Oleh: M Husnaini

Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PCM Solokuro Lamongan,

Pendiri Sahabat Pena Nusantara (SPN)

Mengenang jejak kepenulisan, wajib saya bersyukur. Akhir 2006 adalah awal saya menulis. Sampai sekarang, ratusan karya tulis saya sudah dimuat di Kompas, Jawa Pos, Surya, Duta Masyarakat, Radar Surabaya, Radar Bojonegoro, Surabaya Pagi, Suara Karya, NU Online, Koran Pak Oles, Merdeka, Suara Muhammadiyah, Muhammadiyah Studies, Suara Maskumambang, Majalah Al-Madinah, ESQ-News, ESQ Media, ESQ Life, Eramadina, Kibar, Khittah, Matan, Suara Hidayatullah, Hidayatullah Online, PWMU.CO, Aula, Ummi, Ummi Online, Republika, Dakwatuna, Majalah Al-Ishlah, Liberma, Majalah Semangat, Karismamda.

Kalau menulis buku, baru belakangan saya fokus. Kendati demikian, saya cukup bangga. Karena, tidak dalam waktu lama, saya mampu menerbitkan sejumlah buku. Yang pertama adalah Sekuntum Nyawa untuk Sahabat. Itu kumpulan cerpen santri PP Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan yang saya sunting bersama Rijal Mumazziq Zionis pada 2010. Di tahun yang sama, terbit An English Summary of National History dan satu buku antologi, Membumikan Gerakan Ilmu dalam Muhammadiyah.

Setelah itu, tahun 2011, tidak ada buku saya yang terbit. Tahun 2012, hanya terbit satu buku, yaitu Dialog Keseharian dalam Bahasa Arab. Namun, di tahun-tahun setelah itu sampai sekarang, setiap tahun selalu terbit buku saya. Entah karya mandiri, antologi, atau yang saya sebagai penyuntingnya.

Tahun 2013, misalnya, terbit Keadilan Tuhan dalam Tulisan, yang segera disusul Menemukan Bahagia. Mulailah buku saya ada di Gramedia. Kemudian, saya menyunting kumpulan tulisan Prof Imam Suprayogo, dan terbitlah Masyarakat Tanpa Ranking. Tidak lama, tulisan saya juga dimuat dalam buku karya Ainur Rhaien Subakrun yang berjudul KH M Dawam Saleh: Anak Sopir yang Mendirikan Pesantren.

Menurun lagi pada 2014. Hanya terbit Menghidupkan Jiwa Ilmu dan Hidup Bahagia dengan Energi Positif. Buku pertama merupakan kumpulan tulisan Prof Imam Suprayogo yang saya sunting dan yang kedua karya saya mandiri.

Tiga buku terbit pada 2015, yaitu Hidup Sepenuh Berkah, yang merupakan karya mandiri. Lalu dua karya antologi, yaitu Goresan Cinta buat Bunda dan Quantum Ramadhan.

Yang cukup banyak di tahun 2016. Allah Pun “Tertawa” Melihat Kita dan Semua Ada Hikmahnya merupakan dua buku karya mandiri. Kemudian dua buku karya antologi, yaitu Quantum Belajar dan Quantum Cinta. Saya juga menyunting tiga buku, yaitu Orang Indonesia Kok Dilawan, Mata Air Pesantren, dan Membangun Mental Pejuang. Jadi, total terbit tujuh buku di tahun itu.

Tahun 2017 ini saya awali dengan buku suntingan berjudul Tarbiyah Bil Hal: Sebuah Keteladanan dari KH Muhammad Dawam Saleh. Alhamdulillah. Semoga berkah.

Banyak orang, termasuk yang sudah punya karya tulis, bilang bahwa menulis itu susah. Sebenarnya tidak susah. Hanya kurang dipaksa. Saya sendiri sering memaksa diri untuk menulis. Mungkin penulis lain yang terbilang produktif juga begitu. Makanya, ada kala tulisan kita jelek dan kurang menyala. Kenapa? Ya, karena paksaan. Aslinya tidak ada ide, tetapi dipaksa-paksakan menulis. Bukan idenya yang penting. Namun, kalau sudah rutin menulis, kita menjadi terampil. Menulis persoalan yang tidak penting pun terasa enak. Mengalir. Itulah hasil paksaan.

Pada 2015, saya mendirikan Sahabat Pena Nusantara (SPN). Di grup WhatsApp SPN itu, saya juga memaksa setiap anggota untuk menulis. Kalau tidak siap dipaksa menulis, akan saya keluarkan dari grup. Karena itu pula, syarat utama pelatihan menulis saya adalah peserta harus mau menulis buku setelah itu. Saya kurang sreg dengan pelatihan yang tidak menghasilkan apa-apa. Meskipun saya dibayar mahal untuk itu.

Dalam pelatihan saya, bayaran saya murah tidak mengapa, peserta tidak membeli buku saya juga bukan masalah. Yang penting setelah saya kasih pelatihan, harus ada buku yang terbit. Mereka, para peserta pelatihan tersebut, harus mau menulis. Minimal buku antologi. Begitulah yang sudah berlaku di beberapa tempat. Saya tekuni, terutama sejak 2015. Dan, alhamdulillah, itulah yang bikin saya bisa jalan-jalan gratis ke Malaysia, Dubai, Jedah, Madinah, dan Mekah.

Khusus pelatihan di Malaysia, bahkan saya gunakan untuk membuka SPN Cabang Malaysia. Jasa terbesar di sini adalah Ibu Rita Audriyanti. Beliau yang memfasilitasi segalanya hingga SPN Cabang Malaysia dapat berdiri, dan sudah melahirkan sebuah karya buku, Orang Indonesia Kok Dilawan. Saya bangga dengan kawan-kawan Malaysia ini.

Seperti sering saya katakan, syarat untuk bisa menulis adalah harus menulis. Bukan harus membaca. Kalau sudah bisa menulis, kemudian ingin karya tulis semakin bagus, baru caranya adalah dengan membaca. Jadi, membaca itu sarana untuk menjadikan karya tulis berbobot. Bukannya banyak membaca agar bisa menulis atau mempunyai karya tulis. Itu pendapat keliru. Terbukti, banyak kutu buku yang kesulitan menulis dan tidak punya karya tulis.

Supaya mampu menulis, sekali lagi, tentu harus berlatih menulis. Sesering mungkin. Dengan apa berlatih? Ya, dengan rajin menulis. Dan, kalau ingin karya tulis layak baca, di situlah kemudian wajib mengais ilmu lewat membaca. Tetapi, ingat pula, jangan karena alasan sibuk membaca lantas berhenti menulis.

Saya punya cerita. Pernah suatu kali saya berhenti menulis. Saya ingin fokus membaca. Berhari-hari. Dengan hanya membaca saja, tanpa menulis, saya pikir akan dapat mengendapkan ide, lalu menghasilkan karya-karya tulis yang tajam. Ibarat kendaraan, saya ingin berhenti sejenak untuk mengisi bahan bakar. Begitu batin saya waktu itu.

Rupanya saya salah. Dengan berhenti menulis, bukannya ide saya jadi mengendap. Justru ide-ide tidak muncul. Membaca juga tidak bisa konsentrasi ke satu buku, namun gonta-ganti banyak buku, sehingga tidak ada satu buku pun yang tuntas saya baca. Giliran saya hendak mulai menulis lagi, susah sekali ide ini keluar. Ampun deh. Padahal setiap hari saya membaca.

Parahnya lagi, kesibukan saya saban hari menjadi kurang produktif. Tidak menghasilkan catatan apa pun. Tidak ada satu pun file tulisan yang dapat saya olah menjadi buku. Setiap habis membaca juga tidak menghasilkan apa-apa, karena memang tidak saya peras menjadi karya tulis. Rugi sekali rasanya. Saya menyesal. Sejak itu, saya kembali membiasakan diri menulis. Tidak ada lagi pikiran untuk berhenti menulis guna fokus membaca. Saya lakukan keduanya: membaca sekaligus menulis.

Menurut saya, menulis itu menerbitkan kebahagiaan. Antara lain, rutin menulis menjadikan pikiran kita hidup. Setiap waktu, ada saja yang memantik ide untuk ditulis. Seringan dan sesederhana apa pun. Rutin menulis juga menuntut kita membaca apa saja: tersurat maupun tersirat. Dengan begitu, kita bisa terus belajar. Dan, sikap semacam inilah yang menjadikan ilmu kita bertambah sehingga tidak merasa paling pintar dan paling benar. Orang dengan perasaan paling pintar dan paling benar itu biasanya akibat ilmu yang cetek karena enggan belajar.

Kebahagiaan lainnya, menulis secara rutin membuat kita tidak punya waktu kosong yang tersia. Namanya manusia, kadang ada di antara jeda waktu dari kesibukan yang membuat kita tilang-tileng. Tetapi, bagi penulis, waktu senggang semacam itu pasti segera digunakan untuk menulis, atau sekadar membaca. Jadi, penulis tidak akan pernah merasa kekurangan pekerjaan. Apalagi harus suntuk karena kesepian di tengah keramaian.

Itulah kenapa banyak tokoh bangsa dahulu yang dibui tetapi justru menghasilkan banyak karya tulis. Ya, karena mereka memanfaatkan kesendirian untuk membaca dan menulis. Bukan untuk melamun atau mengobrol sana-sini yang tidak penting sama sekali.

Yang tidak kalah penting, penulis sangat bahagia ketika karya tulisnya dibaca, direspons, apalagi memantik orang lain untuk ikut menulis. Percayalah, kebahagiaan yang terakhir ini lebih besar nilainya dari royalti yang biasa diterima. Artinya, karya tulis kita telah diakui dan mendapat ruang di hati pembaca. Karya tulis yang menginspirasi orang, pahalanya lebih kekal dari sekadar uang.

Jadi, tunggu apa lagi? Ayo menulis sekarang juga. Anda bisa, kita bisa. Mulailah dari hal-hal yang sederhana, yang Anda suka dan paham. Lalu tulislah secara rutin. Misalnya, seminggu menulis dua atau tiga judul tulisan. Kalau sudah lancar, bisa dicoba menulis setiap hari. Jadi, satu hari satu judul tulisan. Insya Allah kalau diniati, bisa. Semoga kelak dapat menjadi warisan ilmu untuk anak cucu kita.

Saya sendiri, insya Allah, akan terus menulis. Semoga istiqamah hingga akhir hayat nanti. Bagi saya, menulis adalah lahan dakwah. Juga amal jariah. Sebagaimana kalimat bijak yang saya rangkai sendiri dan sering saya gunakan untuk merangsang gairah menulis: isy kaatiban au mut maktuuban (hiduplah sebagai penulis atau matilah dalam keadaan ditulis).

0
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Dialog Ideopolitor MPK PCM Babat, Dihadiri PP Muhammadiyah

Next Post

Nah Satu Lagi, PCPM Kedungpring Dirikan Dua Ranting Sekaligus

Read next

Sejarah Itu Tidak Murah

(Kilas Balik Perjalanan Panjang Studi S-3) Bagian 1 Pradana Boy ZTF Dosen Universitas Muhammadiyah Malang PADA…
0
Share