maslahul falahCinta (mahabbah) dalam ujian. Ketika suami kembali merantau berpisah dengan istri dan anak-anaknya. Kala anak-anak yang sedang belajar atau mondok juga sudah kembali sekolah atau pesantren atau universitasnya lagi. Saat para pekerja, karyawan, atau guru atau yang lainnya kembali secara rutin bekerja sesuai dengan profesinya. Manakala anak-anak atau siswa yang menempuh pendidikan di kampung juga kembali untuk menekuni pelajarannya di madrasah atau sekolah.

Keadaan tersebut berbeda dengan misalnya menjelang dan selama Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha atau juga momen liburan panjang. Semua anggota keluarga berkumpul dalam kedamaian, bercengkrama bersama. Ada waktu berekreasi ke tempat wisata dan menikmati kuliner di sekitarnya. Hari-hari libur seperti itu terasa sakinah, mawaddah dan rahmah menyatu dalam keluarga. Rumah berasa surga (baiti jannati). Cinta mewujud dalam detik, menit, jam, hari, pekan atau minggu, bulan dan seterusnya.

Hidup itu bergerak dinamis dan kadang revolusioner. Dan itulah kenyataan hidup. Maka dari itu, hari-hari “kala berpisah” itulah cinta lahir dalam bentuk lain, yakni kerinduan atau kangen. Rindu dalam Bahasa Arab disebutkan asy-syauq (الشَّوْقُ ). Dalam Buku Taman Jatuh Cinta yang merupakan terjemahan dari Kitab Raudhatul Muhibbin wa Nuz-hatul Musytaqin, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah menulis makna asy-Syauq adalah kerinduan kalbu atau hati kepada sang kekasih. Sebutan asy-syauq ini merupakan bagian dari doa Rasulullah SAW kepada Allah dalam sebuah hadits yang bersumberkan dari sahabat ‘Ammar bin Yasir dan diriwayatkan oleh Al-Hakim, Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Al-Albani :

وَأَسْأَلُكَ الشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ ، وَلاَ فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ.

“ Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kekuatan kerinduan untuk bersua dengan-Mu tanpa ada rintangan yang membahayakan dan tanpa fitnah yang menyesatkan”.

Dalam kehidupan sehari-hari pantas dan wajar manakala kita berpisah dengan orang yang kita cintai, maka lahirlah rindu kepadanya. Rindu kepada suami atau istri, rindu kepada ibu dan bapak, rindu kepada kakak dan adik, rindu kepada anak-anak, rindu kepada masyarakat, rindu kepada keluarga, rindu untuk berjuang di jalan Allah. Lebih-lebih rindu untuk berjumpa Allah SWT. Kita berdoa kepada Allah semoga berpisahnya kita sehingga melahirkan kerinduan tadi termasuk tujuh (7) golongan yang akan dilindungi oleh-Nya pada saat tiada perlindungan kecuali perlindungan-Nya. Rasulullah SAW bersabda yang bersumberkan dari shahabat Abu Hurairah dan diriwayatkan oleh Imam Malik, Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim :

Baca Juga  Kedamaian Di Tangan Umar Bin Khattab

وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ

“Dua orang yang saling mencinta karena Allah, keduanya berjumpa dan berpisah karena Allah”

Rindu kepada orang-orang yang kita cintai, jangan sampai menimbulkan perbuatan tercela atau justru melanggar syariat Allah SWT. Maka dari itu, kita usahakan dengan sekuat tenaga kerinduan ini kita jadikan jalan untuk lebih bertaqorrub kepada-Nya. Oleh karenanya kita senantiasa menjaga diri dari hal-hal yang sekiranya bisa mencelakakan. Terkait dengan upaya penjagaan diri ini, marilah kita merenungkan, bermuhasabah dan berusaha sekuat tenaga mengamalkan salah satu sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Imam Ahmad, yang bersumberkan dari sahabat Abu Dzar Al-Ghifari dan berkualitas hadits hasan.

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di kapan dan di manapun berada dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya ia akan menghapuskannya, serta pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik”.

Dalam hadits Nabi SAW tersebut ada tiga wasiat agung dan penting yang mencakup hak Allah dan hak hamba. Pertama, Bertakwa kepada Allah di segala waktu dan kondisi. Ketakwaan menjadi hal pokok dalam kehidupan di dunia ini. Tentang takwa ini, Allah SWT menegaskan di antaranya dalam Surat Al-Baqarah akhir ayat 194, 196, 197. Apa sebenarnya takwa itu ? Makna takwa sangat banyak. Menurut Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami’ul Ulum wal Hikam bahwa makna asal kata takwa berarti menjadikan antara dirinya dengan apa-apa yang dia takutkan dari Tuhannya berupa marah-Nya, murka-Nya, dan hukuman-Nya, suatu perlindungan yang melindungi dirinya dari semua itu, yakni melaksanakan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi kemaksiatan kepada-Nya.
Ada sebuah syi’ar atau sya’ir yang menggambarkan hakikat takwa :

Baca Juga  Ngaji Bisnis dan Temu Saudagar Muhammadiyah Lamongan

( خل الذنوب صغيرها وكبيرها ذاك التقى ) ( واصنع كماش فوق أرض الشوك يحذر ما يرى ) ( لا تحقرن صغيرة إن الجبال من الحصى )

Tinggalkanlah dosa-dosa, baik yang kecil maupun yang besar. Maka itulah takwa##Dan berbuatlah seperti seorang yang berjalan di atas tanah yang bertabur duri. Yang berhati-hati terhadap apa yang dilihatnya##Jangan meremehkan yang kecil. Karena gunung (yang begitu besar) terbentuk dari kerikil-kerikil (yang kecil).
Kedua, Apabila kita terlanjur berbuat buruk, maka hapuslah dengan berbuat baik ( وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا). Firman Allah SWT dalam Surat Hud ayat 114 juga menguatkan ini :

Ketiga, Bergaul sesama manusia dengan akhlak yang baik ( وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ). Kekuatan berakhlak yang baik ini disebutkan Rasulullah SAW dalam sabdanya :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

Bersumberkan dari ‘Aisyah, ia berkata : aku mendengar Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya seorang mukmin benar-benar dapat meraih derajat orang yang gemar berpuasa sunnah dan qiyamullail dengan akhlaknya yang baik” (HR. Abu Dawud dan berkualitas shahih).

Ungkapan ulama salaf Abdullah bin Al-Mubarok rahimahullahu bahwa akhlak yang baik itu adalah wajah ceria, mengerahkan usaha untuk memberikan kebaikan, dan mencegah diri mengganggu orang lain.

Demikian tiga hal pokok yang sangat bagus kita amalkan agar kerinduan terhadap yang kita cintai tidak membabi buta, atau menjauhkan kita dari Allah SWT.

Penulis : Maslahul Falah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here