Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

Menabur Tawa, Merajut Ukhuwah: Kisah Ketulusan Tim HW PMB Mengukir Kenangan Indah di Jiwa Ratusan Santri

MuhammadiyahLamongan.com— Di bawah langit Brondong yang teduh, rona bahagia memancar jelas dari wajah-wajah suci ratusan santri cilik. Dua hari penuh tawa, peluh, dan kebersamaan telah berlalu, meninggalkan jejak kenangan mendalam yang tak akan mudah terhapus oleh waktu. Namun di balik layar indahnya simfoni kebersamaan ini, ada sekelompok pemuda tangguh yang rela mewakafkan lelahnya demi sebuah senyuman.

Pondok Pesantren Al-Munawarah menjadi saksi bisu berkumpulnya energi kebaikan dalam perhelatan Jambore Santri MISI 2026. Berlangsung selama dua hari, mulai Senin hingga Selasa (29–30 Juni 2026), acara berskala kelurahan ini bertransformasi menjadi panggung megah bagi bertemunya ukhuwah islamiyah sejak usia dini.

Sebanyak delapan lembaga legendaris dari seluruh penjuru Kelurahan Brondong mengirimkan permata-permata terbaik mereka. Mulai dari santri TPQ Al-Munawwarah, TPQ Baiturrahman, TPQ Baabun Najah, TPQ Jabal Rahmah, TPA At-Taqwa, TPQ Al-Manar, TPQ ABA 24, hingga TPQ Al-Maghfur. Ratusan anak berkumpul, meluluhkan sekat perbedaan, dan melebur menjadi satu keluarga besar yang hangat.

Namun, sebuah perhelatan besar tidak akan berjalan harmoni tanpa adanya dirigen yang andal. Adalah Tim Hizbul Wathan (HW) Perguruan Muhammadiyah Brondong yang menjadi motor penggerak sekaligus denyut nadi kelancaran acara.

Dianggotai oleh enam kader berjiwa ikhlas—Slamet, Albet, Dhika, Farel, Puspa, dan Arin—mereka yang sehari-hari mengabdi sebagai pembina ekstra HW ini mengerahkan seluruh cinta dan energinya demi memastikan anak-anak mendapatkan pengalaman terbaik.

“Kami percaya penuh bahwa tim HW PMB mampu memberikan kenangan dan pengalaman terbaik untuk santriwan dan santriwati kita,” ujar Baid Adnan, Ketua Majelis Silaturrahim (MISI) TK-TPA Brondong sekaligus Ketua Panitia Acara, dengan nada penuh takzim saat memberikan sambutan.

Sederhana dalam Permainan, Kaya dalam Makna

Kemeriahan langsung terasa sejak hari pertama, Senin (29/6). Lapangan pesantren berubah menjadi arena penuh riuh rendah kebahagiaan saat perlombaan tradisional dimulai. Dari Lomba Gapyak yang melatih keselarasan langkah, Lomba Balon Naga yang penuh kehebohan, hingga Lomba Susun Balok yang membutuhkan ketenangan.

Setiap lomba dirancang bukan sekadar untuk mencari siapa yang tercepat atau terkuat. Di balik itu semua, ada pesan tersurat tentang arti penting kekompakan, kerendahan hati, dan indahnya saling menopang sesama saudara seiman.

Semangat itu tidak luntur sedikit pun saat fajar hari kedua menyingsing, Selasa (30/6). Udara pagi Brondong yang segar menyambut langkah-langkah kecil para santri menyusuri lingkungan sekitar pondok. Setelah raganya disegarkan oleh alam, suasana semakin mencair ketika sesi ice breaking dimulai. Canda tawa pecah, membasuh sisa-sisa kecanggungan antar perserta.

Puncaknya terjadi pada sesi outbound di siang hari. Melalui permainan estafet air dan estafet botol, para santri diuji konsentrasi serta kerja samanya. Pakaian yang basah kuyup dan peluh yang bercucuran justru melahirkan tawa yang makin lepas. Di sana, ego dikesampingkan demi satu tujuan kelompok; sebuah pelajaran hidup yang tak mereka dapatkan di atas lembar buku teks kelas.

Ikhlas yang Menguapkan Lelah

Ketika matahari mulai condong ke barat, menandakan berakhirnya seluruh rangkaian acara, ada rasa haru yang menggelayut di hati panitia. Menatap ratusan santri pulang dengan senyum merekah dan cerita baru yang siap dibagikan kepada orang tua mereka, lelah yang menggelayuti tubuh enam pembina HW seketika menguap. Segala kendala teknis yang sempat muncul di lapangan berhasil diurai dengan kepala dingin lewat komunikasi yang santun dan musyawarah solid.

Komitmen total itu berbuah manis: acara ditutup dengan selamat, lancar, dan sukses besar. Koordinator Tim HW PMB, Slamet Mulyono, dengan mata berbinar penuh rasa syukur mengungkapkan rasa bangganya bisa mengawal jalannya acara hingga akhir.

“Senang bisa membersamai santriwan-santriwati peserta jambore. Lelah itu pasti, tapi melihat senyum mereka, kami tetap memberikan yang terbaik untuk Jambore Santri 2026,” tutur Slamet tulus.

Jambore Santri MISI 2026 kini telah usai. Namun, gemuruh tawa di Ponpes Al-Munawarah, hangatnya dekapan ukhuwah, serta ketulusan enam kader Hizbul Wathan Brondong akan tetap hidup—terukir abadi sebagai salah satu kenangan masa kecil terindah di dalam dada ratusan santri kelurahan Brondong. Mereka pulang membawa bekal karakter untuk masa depan yang lebih gemilang.

Penulis: Devia Inka Puspa Aishwara, Editor: Ma’in

0
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Cazinou Online rainbow riches 80 rotiri gratuite România crystal ball slot Să Bani Reali

Next Post

Depozite bancare 2024: Ş sunt cele apăsător bune dobânzi gold rush joc bonus pe depozitele pe lei 150 șanse house fie fun spre cărindar

Read next
0
Share