Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

+1 202 555 0180

Have a question, comment, or concern? Our dedicated team of experts is ready to hear and assist you. Reach us through our social media, phone, or live chat.

nasiruddin wafiq

Mencintai Juga Harus Menyanyangi

Oleh: Nasiruddin Wafiq

Cinta dan kasih sayang bisa ditebarkan setiap hari bukan hanya diperingati setiap taggal 14 Februari.Mencintai orang tua, saudara, tetangga, ataupun sahabat dekat juga merupakan cinta dan kasih sayang. Berbuat kebajikan di muka bumi, melestarikan alam, saling menolong pada setiap manusia juga merupakan cinta dan kasih sayang. Sebuah pembodohan sosial jika didoktrin dan dibangun opini jika cinta dan kasih sayang itu adanya hanya saat 14 Februari saja.

Al Imam Bukahri dan Al Imam Muslim meriwayatkan dariShahabat Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda (artinya). “Sedianya shalatku akan kupanjangkan, namun bila kudengar suara tangisan bayi, terpaksa aku singkatkan.Betapa gelisah hati ibunya, dan dimana saja baginda dengan anak kecil maka dengan penuh kasih sayang dipegangnya.”

Islam juga berbicara mengenai anak yatim ialah anak yang ditinggal mati oleh ayahnya hingga dia berusia baligh.Sedangkan yatim piatu ialah anak yang ditinggal mati kedua orang tuanya (ayah dan ibunya) hingga dia berusia baligh. Dalam Islam mereka mendapat perhatian khusus melebihi anak-anak yang masih memiliki kedua orang tuanya, yang secara psikologis anak akan terguncang hatinya. Orang dewasa pun apabila ditinngal ayah dan ibunya pasti tergoncang hatinya, akan merasa sedih karena kehilangan orang yang sangat dekat, orang yang menyayangi, memperhatikan, menghibur dan menasehatinya.

Betapa agungnya ajaran Islam yang universal ini menempatkan anak yatim dalam posisi yang sangat tinggi.Islam mengajarkan untuk menyayangi mereka dan melarang melakukan tindakan-tindakan yang dapat menyakiti atau melukai perasaan mereka. Dalam Al-Qur`an ada yang menerangkan tentang anak yatim ini, yakni pada surat Al Ma’un Ayat 1-3 (artinya) : “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin.”

Dalam sebuah kisah (Baca : Heru Setyaka, 2013:87)tertulis ada seorang pemulung dengan cinta dan kasih sayangnya dalam hidup yang terbatas, namun cinta dan kasih sayang itu tetap hidup didalam sanubarinya. Dia adalah Lou Xiaoying seorang wanita asal Tiongkok yang mensedekahkan umur hidupnya untuk mengasuh tiga puluh bayi yang dibuang oleh orang tuanya. Ia mengais sampah untuk bisa menemukan barang-barang bekas yang dapat digunakan oleh keluarganya ataupun dijual kembali.

Ketika sedang mengaduk-ngaduk sampah di pinggir jalan, ia mendengar sebuah tangisan bayi, seketika itu ia beranjak untuk mencari suara itu dan tak disangka di depan matanya dia melihat bayi kecil mungil itu menangis. Melihat bayi kecil yang menangis hati Lou langsung tergerak untuk mengambil bayi itu.Lalu bayi yang tak berdaya itu dibawa pulang untuk dirawat. Sebagai seorang ibu yang juga memiliki seorang anak walaupun kondisi ekonomi keluarganya sangat terbatas tapi hatinya tergerak, Lou tahu persis bila bayi itu kedinginan dan kelaparan karena ditinggalkan di tempat sampah.

Dalam sehari Lou keluar rumah tiga sampai empat kali untuk memulung sampah. Sejak menemukan bayi yang dibuang pada tempat sampah itu, dia tidak hanya berprofesi sebagai pemulung sampah, tetapi juga memungut bayi yang dibuang. Dalam beberapa tahun hidupnya ia sudah membawa kurang lebih tiga puluh bayi yang ditemukan dalam kondisi yang selalu tidak baik. Dengan kebesaran hatinya, Lou tetap memungut bayi-bayi yang ditemukannya di tempat sampah.Dalam hatinya, tidak pernah terbesit bagaimana ia esok makan setelah memungut bayi-bayi itu. Saat itu usia Lou sudah mencapai 82 tahun, baginya melihat anak-anak itu tumbuh dan menjadi lebih kuat memberinya sebuah kebahagiaan lebih.

Lou Xiaoying telah memberikan sebuah contoh, bahwa untuk menolong sesama tidak harus menunggu dalam posisi baik dulu. Baginya, melakukan sebuah hal-hal kecil apapun yang bisa dikerjakan merupakan suatu hal yang sangat berharga bagi orang lain. Meskipun dalam keadaan miskin dan sakit-sakitan, Lou tidak pernah berhenti untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anak yang diselamatkannya.

Ketika berusia 88 tahun, Lou terkena penyakit gagal ginjal.Ia terkulai di rumah sakit dengan dikelilingi oleh anak-anaknya. Ia membutuhkan biaya untuk perawatan.Walaupun nyata-nyata sangat membutuhkan biaya untuk perawatan karena pekerjaannya hanya seorang pemulung sampah, Lou dan anak-anaknya bersepakat untuk tidak meminta bantuan berupa donasi. Anak-anaknya hanya berharap banyak yang mengirimkan surat ucapan semoga cepat sembuh, agar ia tahu bahwa tindakan yang telah dilakukannya berhasil mengetuk banyak hati orang untuk berbagi, tetapi anak-anaknya yang tetap akan membiayai perawatan Lou.

Meski dirawat di rumah sakit, Lou masih tetap memikirkan anak-anak yang dirawatnya. Ada satu harapan terakhir dalam hidupnya sebelum ia menghembuskan nafas terakhir, melihat anaknya Zhang Qilin masuk sekolah. Mendengar itu, tempat Sekolah Dasar yang Lou pernah bersekolah memberikan keringanan biaya pada Qilin.Akhirnya Lou pun menutup mata dan beristirahat dengan tenang untuk selamanya.

0
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Baksos IMM, Sebagai Perwujudan Teologi Al Ma’un

Next Post

Pentingnya Tauhid dan Spiritualitas dalam Gerakan Muhammadiyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Read next
0
Share