Cerita salah satu aktifis saat ngobrol di warung kopi depan kantor Muhamamdiyah Lamongan, akhir pekan Oktober lalu membuat Saya dan 3 teman lainnya terkesima. Kami menyimak ceritanya, sesekali menghela nafas panjang.

Kader tulen ini menuturkan peristiwa di cabangnya, sambil memendam jengkel yang belum redam. “Dulu saya ikut membangun amal usaha ini, menghabiskan dana 50 juta. Kamu baru anak kemaren sudah berani membongkar tanpa restu dari orang tua. Kami yang mempunyai jasa sebelum kamu ada di sini”. Demikian, teman Saya menceritakan dengan berapi-api.

Sahabatku seperjuangan. Itulah sepenggal cerita dari banyak kisah yang masih tersisa di tengah medan dakwah. Ada jiwa-jiwa yang haus pujian. Masih ada pejuang yang ingin disebut sebagai pejuang.

Sang pendiri Muhammadiyah tak pernah berpesan, “ukirlah namaku di atas nisanku, buatlah prasasti-rasasti kehormatanku”. Kyai Ahmad Dahlan, berwasiat “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, Jangan jadikan sebagai alat pemuas nafsu dunia”

Ribuan tokoh dan pemimpin gerakan di masa lalu mengabdi sepenuh hati, berjuang tanpa pamrih sanggup melewati duri satu demi satu. Bahkan kitapun tidak hapal namanya satu persatu, apalagi wajahnya. Dari mereka kita mewarisi semangat tiada batas. Ibarat bangunan tembok, para mujahid secara estafet mampu meletakkan batu bata di era masing-masing. Apa yang mereka dapatkan ? Ridho Allah semata li ilaa ikalimatillah.

Baca Juga  Memaknai Bonus Demografi Bersama “Ilir Ilir”

Tidak perlu ritual haul bagi pimpinan yang meninggal, tidak ada perlakuan istimewa bagi keluarga yang ditinggal. Ahli warisnyapun tidak minta untuk diagung-agungkan. Betapa uniknya bermuhammadiyah.

Nabi Ibrahim alaihissalan- khalilullah, dalam doanya tidak egois. Abul Anbiya ini berdoa bukan untuk kelanggengan dirinya, tidak pernah minta dibangunkan patung sebagaimana tradisi leluhurnya.

Apa yang dimohon ? Renungkan doanya dalam alquran :

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan sholat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: Ayat 40)

“Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu-bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat).” (QS. Ibrahim: Ayat 41).

Baca Juga  Kesholehan Anak Cerminan Kesholehan Orang Tua

Doa-doa yang dimunajatkan berorientasi ke depan, untuk kesinambungan risalah tauhid.

Dari garis keturunannya melahirkan insan-insan Pilihan, Ismail, Ishaq, Daud, Sulaiaman, dan masih banyak lagi.

Doa syukur yang sangat indah tergambarkan :

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sungguh, Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.”
(QS. Ibrahim: Ayat 39)

Generasi yang sukses adalah yang bangga dengan lahirnya kader-kader baru yang dibutuhkan di zamannya. Kepemimpinan yang unggul mampu menambah mortil-mortil dalam barisan jamaah, bukan melemahkannya.

Nabi Ibrahim seorang Nabi bergelar ulul azmi, KH Ahmad Dahlan pendiri Persyarikatan tidak pernah menyombongkan diri, apalagi berkoar-koar paling berjasa.

Lalu kita? Ah, lebih tidak pantas. Karena pada hakekatnya kita hanyalah kholifah, pelanjut, perawat apa yang sudah dirintis oleh para pendahulu kita.

Jangan takut tidak dipuji, jangan resah tdak ada tepuk tangan. Allah swt Maha teliti catatannya.

Yakinlah.
Wallahu alam.

Ditulis oleh :

Mohammad Suud
Sekretaris Majelis Tabligh PDM Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here