Nabi Idris as adalah keturunan keenam nabi Adam as, dari Yazid Bin Mihla’iel Bin Qinan Bin Syit. Nabi idris as juga merupakan kakek bapak dari nabi Nuh as. Nabi Idris as diperkirakan lahir 100 tahun setelah wafatnya nabi Adam as. Nabi Idris as memimpin umat yang masih termasuk keturunan , umat ini pada waktu itu banyak yang rusak akhlak nya sehingga Allah SWT menunjuk nabi Idris as sebagai nabi dan rasulnya.

Allah pun memberikan mu’jizat kepadanya berupa kepandaian disegala bidang diantara mu’jizat nabi Idris adalah sebagai berikut : Pertama, hebat dalam menunggang kuda  padahal pada waktu itu sedikit orang yang pandai menunggang kuda. Kedua, dapat menulis . Beliaulah manusia pertama yang menggunakan pena, mengenal tulisan menguasai berbagai bahasa ilmu perhitungan ilmu alam astronomi dan lain sebagainya. Ketiga, dapat menjahit pakaian yang pada waktu itu belum ada yang menjahit pakaian.

Dalam literatur islam,nabi Idris diangkat menjadi nabi pada usia 40 tahun. Usia yang sama dengan Nabi Muhammad SAW. Nabi idris mendapat kitab dari Allah SWT sebanyak 30 shohifah. Dalam kitab ini berisi ajaran kebenaran seperti halnya Al-Qur’an. Kitab itu merupakan petunjuk yang disampaikan kepada umatnya. Sehingga umatnya yang sudah rusak akhlaknya sedikit demi sedikit kembali ke jalan yang benar.

Nabi Idris as kemudian membagi waktunya menjadi 2 dalam seminggu yakni selama 3 hari, Nabi Idris akan mengajarkan kepada kaumnya. Dan 4 hari berikutnya, nabi Idris as akan mencurahkan seluruh waktunya untuk beribadah kepada Allah.  Nabi Idris juga mendapat asadul usud yang berarti singa karena beliau tidak pernah berputus asa dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang nabi. Beliau tidak pernah takut menghadapi umatnya yang kafir. Meskipun demikian ia tidak pernah sombong, ia bersifat pemaaf. Di dalam Al-Qur’an hanya terdapat 2 ayat tentang Nabi Idris yaitu dalam surah Maryam ayat 56 dan 57. “Dan ceritakanlah hai Muhammad kepada mereka kisah Idris yang tersebut dalam Al-qur’an sesungguhnya ia adalah orang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi”( Maryam 56-57)

Dikisahkan nabi Idris as hidup dengan umur 365 tahun dan berteman erat dengan malaikat penghuni surga. Malaikat tersebut kemudian membawanya ke langit namun terhenti di langit ke empat.  Mereka bertemu dengan malaikat maut, malaikat tersebut bertanya kepada malaikat maut ,”berapa sisa umur nabi Idris ?” Malaikat maut kemudian bertanya “Dimanakah nabi Idris?” karena dirinya telah diperintahkan untuk mencabut nyawanya.  Akhirnya nabi Idris meninggal dan tetap berada di langit ke empat.

Baca Juga  Bawalah PCM, PRM Ke Arah Keunggulan Dan Kemanfaatan

Dalam hubungan dengan firman Allah SWT bahwa nabi Idris diangkat ke martabat tinggi. Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya meriwayatkan bahwa nabi idris wafat tatkala berada di langit keempat di bawah oleh seorang malaikat. Wallahu a’alam bissawab.

Yang menarik, komunikasi nabi idris dengan kaumnya salah satunya adalah dengan menulis. Menulis menjadi keahlian utama nabi idris untuk menyampikan risalah risalah kenabian yang dibawanya. Tulisan tersebut meliputi bebagai bidang keilmuan, salah satunya adalah ilmu perhitungan dan astronomi yang jarang dikuasai pada zaman itu.

Baca Juga  Ijtihad Dan Muhammadiyah

Menulis adalah salah satu bagai komunikasi efektif untuk mejangkau banyak orang dan dalam waktu yang tidak terbatas. Nabi Idris mencontohkan itu dengan memulainya sebagai seseorang nabi yang pertama kali menggunakan pena untuk menulis dan menyampaikan risalahnya. Komunikasi tersebut sengaja beliau bangun karena nabi idris harus menata waktunya dalam seminggu yakni selama 3 hari untuk mengajarkan pada kaumnya dan 4 hari untuk ibadah.

Selama beliau tidak mengajar, maka tulisannya menjadi ilmu pengathuan yang dapat dibaca kapanpun dan  dimanapun, bahka pada saat nabi idris tidak ada. Benar sekali, bahwa disamping berbicara dianggap sebagai komunikasi efektif, menulis adalah salah satu bagian dari komunikasi terbaik dan efektif untuk menyampiakn sebuah hal atau pesan.

 

irvan syaifullah

Penulis : Irvan Shaifullah,

Mahasiswa Pascasarjana UM Surabaya

Pengasuh PA dan PP Al Mizan Muhammadiyah Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here