Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

Mengasah Nalar dan Emosi, IMM Al-Iskandariyah UMLA Bekali Kader Hadapi Konflik dan Aksi Massa

MuhammadiyahLamongan.com – Kegiatan Darul Arqam Dasar (DAD) VI Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Al-Iskandariyah, Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA), kembali menghadirkan materi keenam bertajuk Manajemen Konflik dan Aksi Massa, Sabtu (18/4/2026) pukul 16.20 WIB. Bertempat di Auditorium Budi Utomo lantai 3 UMLA, kegiatan ini diikuti oleh 35 peserta dengan suasana kondusif serta partisipasi aktif dari para kader.

Materi disampaikan oleh Immawan Alexi Candra Kasan Nova, S.M., M.M., selaku Ketua Umum Pimpinan Cabang IMM Lamongan. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa konflik merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan, termasuk dalam dinamika organisasi. Perbedaan latar belakang, pola pikir, hingga budaya menjadi faktor utama munculnya konflik.

Ia mencontohkan, perbedaan latar belakang seperti mahasiswa dari lingkungan Nahdlatul Ulama yang menempuh pendidikan di institusi Muhammadiyah dapat memunculkan potensi konflik apabila tidak disikapi secara bijak. Namun demikian, konflik tidak seharusnya dihindari, melainkan dikelola sebagai ruang pembelajaran.

“Setiap organisasi pasti memiliki konflik. Tidak ada jaminan bahwa masuk IMM akan terbebas dari konflik. Yang terpenting adalah bagaimana konflik tersebut dapat diselesaikan dengan baik,” ujarnya.

Dalam materinya, dijelaskan beberapa jenis konflik yang umum terjadi, antara lain konflik intrapersonal (diri sendiri), konflik dengan orang tua, konflik lingkungan, konflik budaya, hingga konflik antarorganisasi. Masing-masing jenis konflik memiliki karakteristik serta pendekatan penyelesaian yang berbeda.

Konflik intrapersonal, misalnya, menuntut kemampuan refleksi diri dan pengendalian emosi agar individu mampu mengambil keputusan secara bijak. Konflik dengan orang tua dapat diselesaikan melalui komunikasi terbuka dan saling pengertian. Sementara itu, konflik lingkungan membutuhkan kemampuan adaptasi dan keterampilan bersosialisasi.

Adapun konflik budaya dapat diatasi melalui sikap toleransi dan saling menghargai perbedaan. Untuk konflik antarorganisasi, kader dituntut menjunjung tinggi etika, mengedepankan dialog, serta mencari titik temu tanpa mengorbankan prinsip yang diyakini.

Dengan pendekatan yang tepat, konflik justru dapat menjadi sarana memperkuat relasi dan memperluas wawasan.

Selain itu, materi ini juga mengulas manajemen aksi massa sebagai bagian dari peran strategis mahasiswa. Aksi massa dipandang sebagai sarana penyampaian aspirasi yang harus dilakukan secara terarah, terorganisasi, dan bertanggung jawab.

Perencanaan yang matang, koordinasi yang solid, serta tujuan yang jelas menjadi kunci keberhasilan dalam pelaksanaan aksi massa.

Kegiatan berlangsung interaktif, ditandai dengan banyaknya pertanyaan dan tanggapan dari peserta. Hal ini menunjukkan tingginya antusiasme kader dalam memahami materi yang disampaikan.

Melalui materi ini, peserta DAD VI diharapkan mampu memahami bahwa konflik bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan dikelola secara bijak untuk menghasilkan solusi. Selain itu, kader juga diharapkan memiliki kesiapan dalam mengelola aksi massa secara bertanggung jawab.

Materi keenam ini semakin memperkuat tujuan DAD VI IMM Al-Iskandariyah UMLA dalam mencetak kader yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial dalam menghadapi dinamika organisasi maupun masyarakat. (*)

Penulis Nova Aquila Salsabila Cahyono. Editor Fathan Faris Saputro.

1
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Menggali Akar Pendidikan Desa, Kader IMM Al-Iskandariyah UMLA Temukan Peran Kunci Pemerintah Desa

Next Post

Kultum Jadi Ruang Latih, Kader IMM Al-Iskandariyah UMLA Asah Kepercayaan Diri dan Nalar Publik

Read next
0
Share