Redaksi muhammadiyahlamongan.com menyajikan suguhan dakwah media massa yang sejuk, Islami dan berkemajuan. Berbasis komunitas dan berpedoman pada tujuan persyarikatan Muhammadiyah.

Puasa Versus Produktifitas

1 min read

M. Ghozali

Oleh : M Syukri Ghozali, Amd.Kep

Ramadhan adalah bulan berkah maghfiroh (BBM), kegiatan apa yang biasanya paling sering anda lakukan? Tidurkah? Ibadahkah?

Memang sungguh ironis sekali yang terjadi di Indonesia. Kita perhatikan baik-baik disetiap sekolah di tanah air kita ini. Banyak sekolah yang biasanya jam pulang disore hari, tetapi ketika  Ramadhan tiba, sekolah memperpendek waktu belajarnya hanya sampai siang hari, begitu pula kantor-kantor, semua itu seolah-olah sebagai kompensasi produktivitas saat bulan Ramadhan. Padahal Allah menciptakan bulan suci Ramadhan tidak untuk berleha-leha, ingatkah kisah Rosulullah zaman dahulu ketika perang Badar terjadi? Perang terbesar pada masa itu, justru beliau memenangkan perang Badar pada saat bulan Ramadhan. Sungguh menakjubkan, bukan?

Bukankah ini sebuah bukti yang nyata dan unik bahwa ternyata Rosul dan para sahabatnya membuahkan hasil yang sangat besar, itu terjadi pada momentum bulan suci Ramadhan ini menunjukkan bahwa puasa bukan waktu bermalas-malasan justru menjadi contoh produktivitas kita melesat dari pada sebelumnya.

Dalam Al Qur’anul karim antara perang Badar dan Puasa itu sama sama menggunakan kata “ kutiba”, kata kutiba dalam bahasa arab itu nilai wajibnya lebih kuat dariFardlu, sehingga ini seruan yang kuat dan luar biasa. Tidak hanya perang Badar , bulan suci Ramadhan ummat muslim berhasil menaklukkan kota Mekkah, terjadi juga perang Tabuk pada 9 Hijriyah bahkan berkat rahmat Allah SWT kemerdekaan Negara Indonesia kita raih bertepatan pada bulan suci Ramadhan untuk itu Ramadhan adalah bulan perjuangan, mestinya semakin mendekati Ramadhan shof sholat jangan semakin maju danSemangat 45 jangan pudar.

Bukankah puasa berarti tidak ada asupan makanan, tidak ada kalori yang dipecah? Bukankah berarti dengan demikian kita akan menjadi sangat lemah? Pernahkah anda merasa lemas saat bangun tidur setelah tidur berkepanjangan, kekenyangan saat makan makanan yang jumlahnya sangat banyak, minum air sampai perut kembung, jika anda menjawab pernah, hal itu merupakan sebuah bukti nyata bahwa asupan makanan banyak = produktivitas tinggi, begitu juga sebaliknya asupan makanan rendah= produktifitas rendah. Padahal ini adalah anggapan yang salah.

Ketika kita makan makanan yang berlebihan otomatis kerja lambung semakin meningkatenzim dan asam lambung aliasHCL bahkan otot dan kelenjar- kelenjarnya pun aktif  bekerja ekstra keras disebabkan itulah banyak makanan justru membuat kita menjadi jauh lebih malas dan lemas. Bukan hanya otot dan kelenjar saja ternyata persyarafan pun sangat sibuk terutama syaraf yang langsung dari otak anda yaitu syaraf Kranial no X ( Vagus)yg mempersyarafi seluruh system pencernaan anda. Tak hanya itu, ia pun memiliki kerja extra untuk senantiasa mempersyarafi jantung anda yang tiap detik anda rasakan berdetak.serta mempersyarafi paru-paru kita agar senantiasa tetap bernafas, bahkan saat kita tertidur sekalipun. Bayangkan betapa luar biasa sibuknya syarafVagus yang kita miliki.Subhanallah.

Dengan demikian, banyak makanan ternyata menghalangi proses peremajaan tubuh kita dan menumpuk sampah didalam tubuh kita endingnyamenghabiskan energi kita sehingga produktivitas menjadi makin berkurang. Berbeda saat puasa karena saluran cerna dibiarkan untuk beristirahat sejenak akan terjadi peremajaan sel sehingga akan membuat tubuh kita lebih muda, lebih segar dan lebih bertenaga, untuk itu dengan Puasa Tubuh lebih Sehat dan Produktivitas kita akan lebih Meningkat.

Penulis : Perawat Mahir Ginjal

Bekerja sbg Perawat Hemodialisis RSML

Redaksi muhammadiyahlamongan.com menyajikan suguhan dakwah media massa yang sejuk, Islami dan berkemajuan. Berbasis komunitas dan berpedoman pada tujuan persyarikatan Muhammadiyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *