mbah-umarMuhammadiyahLamongan.com – Tua-tua keladi makin tua amal sholeh makin menjadi. Itulah sosok H. Umar Faha meski Usia yang tergolong sudah senja tidak menyurutkan tetap semangat untuk aktif di Muhammadiyah. Sesepuh Muhammadiyah Kedungpring ini masih menghadiri kegiatan Musyawarah Ranting (Musyran) Bersama Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah (PRPM) Karangcangkring dan Tlanak di Masjid Baitul Muttaqin, Desa Karangcangkring, Kedungpring, Lamongan, Ahad (15/1) malam.

Satu hal yang istimewa dalam kegiatan tersebut. Dapat dihadiri dan sekaligus memberi sambutan pengarahan dari Mbah Umar sapaan H. Umar Faha adalah satu satunya Tokoh Masyumi setempat yang sampai sekarang masih sehat dan aktif di kegiatan Muhammadiyah meskipun usianya sudah menginjak 90 tahun.

Maklum mbah Umar sangat peduli dengan kegiatan Muhammadiyah, Mbak Umar adalah aktifis sejak usia muda. Bahkan sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1942 sudah menjabat sebagai Komandan Seinendan (Tentara Jepang) kecamatan Kedungpring.

Semasa mudahnya Mbah Umar, Selain sebagai Tentara Jepang Dia juga pernah Aktif di Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) dan Pandu Islam, dan akhirnya sebagai pelopor berdirinya Masjid Muhammadiyah sekaligus mendirikan Pimpinan Ranting Muhammadiyah setempat.

Menurut, Mbah Umar “sebenarnya keberadaan Muhammadiyah di Desa tersebut sudah sangat lama. Bahkan bapaknya juga sudah anggota Muhammadiyah. Tetapi secara resmi Pemuda Muhammadiyah Karangcangkring dibentuk melalui Musyran baru kali ini”.

Baca Juga  Profil Ranting Mandiri

Istri juga semasa hidupnya pejuang dan aktifis Aisyiyah. Mbah umar ini sekarang tinggal satu satunya sesepuh masyumi mas.

Di usia yang tidak muda lagi. Dia, masih sangat aktif hadir di pengajian Muhammadiyah dimanapun wilayah Kedungpring. “Kalau jauh tidak kuat katanya”, ungka Mbah Umar.

Lebih lanjut, Mbah umar menceritakan ” Bapak saya cerita mengenal dan simpati dengan Muhammadiyah meskipun mengenal dari jauh sejak 1912.

Bapak berpesan dalam membangun masjid tempat penyelenggaraan Musyran bersama tidak boleh menarik iuran dari warga karena kawatir memberatkan saat itu.

Ia menjelaskan, awal mendirikan Muhammadiyah di desanya saat itu sangat susah. Pasalnya, Mengajak dengan mendatangi secara person dan akhirnya dapat 7 orang yang mau, ya hanya 7 itu saja.

Ia menambahkan, dikaruniai 10 anak masih hidup semua dan semua aktifis muhammadiyah meskipun ada di Bandung, sidoarjo dan lain-lain. Termasuk anak bungsunya yang sekarang bertugas di Polda Jatim.

Mbah Umar berpesan, kepada anaknya yang polisi beliau sangat berpesan junjung tinggi kejujuran jangan sampai perna menerima suap dan jangan sekali kali menyakiti orang sekalipun itu salah.

Baca Juga  Sejarah Itu Tidak Murah ( Bagian 3)

Mbah umar juga tercatat sebagai Majeli Pertimbangan Partai Dewan Piminan Cabang Partai Amanat Nasional (MPP DPC PAN) Kedungpring sejak PAN berdiri sampai 2010.

Sementara itu Nurhadi Ketua PCPM Kedungpring saat menemu Dia, menjelaskan “setelah istrinya meninggal 1 bulan yang lalu. Dia sekarang tinggal sendiri, meskipun anak-anaknya mengajak tinggal bersama. Dia menolak dan ingin tetap dirumahnya sendiri yang sederhana.

Rumah yang tepat menghadap Masjid Baitul Muttaqin. Karena Masjid berada di halaman rumahnya. Di usia yang senja Mbah Umar pandangannya masih sangat jelas tanpa kaca mata luar biasa, tambah Nurhadi.

Meski usia beliau sudah tua, namun ada satu hal yang kami kagumi, yakni semangat beliau yang masih kuat. Terbukti meski kondisi fisik sudah tidak sekuat pada waktu muda, beliau masih mempunyai semangat berdakwah yang kuat, tutup Nurhadi.

Selain itu Masjid Baitul Muttaqin milik Muhammadiyah dijadikan sekretariat PRM setempat. Pintu masuk masjid terdapat papan kayu lama warna biru sebagai papan nama PRM Desa Karangcangkring. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here