MuhammadiyahLamongan.com- Di bawah langit pagi yang cerah di tepian utara Lamongan, ribuan pasang mata tertuju pada satu halaman yang hari itu terasa berbeda. Deretan toga, senyum haru orang tua, lantunan ayat suci, hingga tepuk tangan yang bergemuruh menyatu menjadi satu kisah besar tentang perjalanan pendidikan yang tidak dibangun hanya dalam semalam. Ahad, 24 Mei 2026, Halaman Perguruan Muhammadiyah Brondong menjadi saksi sebuah momentum istimewa: Purna Siswa Terpadu Perguruan Muhammadiyah Brondong yang mempertemukan tiga jenjang pendidikan dalam satu panggung pengabdian—MIM 06 Brondong, MTsM 25 Brondong, dan SMKM 2 Brondong.
Bukan sekadar acara pelepasan siswa biasa, konsep “Terpadu” yang diusung Perguruan Muhammadiyah Brondong justru menjadi perhatian banyak pihak. Sebab di tengah dunia pendidikan yang sering berjalan sendiri-sendiri antar jenjang, Perguruan Muhammadiyah Brondong menghadirkan sebuah ekosistem pendidikan yang saling menyambung sejak tingkat dasar hingga menengah atas. Sebuah konsep yang tidak hanya berbicara tentang keberlanjutan akademik, tetapi juga kesinambungan karakter, budaya belajar, hingga pembentukan akhlak peserta didik.
Suasana haru begitu terasa ketika para siswa dari tiga lembaga berjalan berdampingan memasuki area acara. Mereka bukan hanya datang dari jenjang yang berbeda, melainkan membawa jejak perjalanan panjang yang tumbuh dalam nilai dan pembiasaan yang sama di bawah naungan Perguruan Muhammadiyah Brondong.
Kepala MIM 06 Brondong, Bapak Effendi, S.Pd., menyampaikan bahwa konsep terpadu ini merupakan bentuk ikhtiar bersama dalam menanamkan pondasi pendidikan sejak usia dini secara berkelanjutan.
“Anak-anak tidak cukup hanya dibekali kemampuan membaca dan berhitung, tetapi juga harus dibiasakan memiliki adab, disiplin, tanggung jawab, serta kecintaan terhadap nilai-nilai Islam sejak kecil. Ketika pembiasaan itu terus dilanjutkan hingga jenjang berikutnya, maka karakter anak akan tumbuh lebih kuat dan terarah. Inilah yang menjadi semangat pendidikan terpadu di Perguruan Muhammadiyah Brondong,” ujarnya.
Menurut Kepala MIM 06 Brondong, Bapak Effendi, S.Pd., konsep Purna Siswa Terpadu bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan bagian dari upaya membangun pondasi pendidikan dan karakter peserta didik sejak usia dini secara berkelanjutan.
Beliau menjelaskan bahwa kegiatan ini mengandung nilai pendidikan, kebersamaan, dan taawun atau semangat saling membantu. Menurutnya, semangat taawun harus terus ditanamkan, yakni bagaimana yang kuat membantu yang lemah, dan yang mampu mendukung yang membutuhkan.
“Anak-anak MIM 06 diharapkan memiliki semangat untuk tumbuh dan bercita-cita seperti kakak-kakaknya di MTsM dan SMK Muhammadiyah. Sebaliknya, siswa MTsM 25 dan SMKM 2 juga tetap mengingat bahwa mereka pernah dibentuk dan dididik sejak di MIM,” ungkap beliau.
Selain itu, beliau menekankan pentingnya menghadirkan kesan hikmat dalam setiap prosesi. Purna siswa tidak boleh hanya menjadi kegiatan seremonial semata, tetapi harus meninggalkan makna, kenangan, dan kesan mendalam bagi peserta didik maupun orang tua.
Yang paling penting, lanjut beliau, konsep Purna Siswa Terpadu harus terus dijaga keberlanjutannya. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya berlangsung layaknya sebuah konser atau acara tahunan biasa, tetapi menjadi budaya dan tradisi lembaga pendidikan Muhammadiyah Brondong yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Sementara itu, Kepala MTsM 25 Brondong, Bapak Su’aidi, M.Pd. Gr., menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya memindahkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, akhlak, kedisiplinan, dan budaya belajar peserta didik secara bertahap dan berkelanjutan.
“Ketika MI, MTs, dan SMK berjalan sendiri-sendiri tanpa komunikasi dan kesinambungan program, maka pembinaan karakter siswa sering terputus. Padahal setiap jenjang adalah mata rantai yang saling menyambung. Nilai-nilai yang sudah ditanamkan sejak MI seperti disiplin ibadah, sopan santun, tanggung jawab, dan semangat belajar harus diperkuat di MTs, lalu dimatangkan di SMK agar menjadi karakter yang melekat dalam kehidupan siswa,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa sinergi antar jenjang menjadi kunci dalam membangun budaya belajar yang konsisten bagi peserta didik.
“Budaya literasi, pembiasaan tepat waktu, etika penggunaan teknologi, hingga semangat berprestasi harus dibangun dalam visi yang sama. Ketika seluruh jenjang berjalan selaras, maka peserta didik akan tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang utuh dan siap menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan,” tambahnya.
Lebih lanjut, beliau menilai kolaborasi antar jenjang juga memudahkan sekolah dalam memetakan perkembangan peserta didik dari masa ke masa.
“Guru di MTs dapat memahami latar belakang pembiasaan siswa dari MI, sementara SMK dapat melanjutkan penguatan potensi dan karakter yang sudah dibangun di MTs. Dengan demikian pendidikan tidak hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan siap bermasyarakat,” jelasnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala SMKM 2 Brondong, Ibu Zun Aini, M.Pd., menyampaikan bahwa konsep pendidikan terpadu di Perguruan Muhammadiyah Brondong dirancang untuk membentuk lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tapi juga cakap dalam keterampilan kerja serta berkarakter kuat.
“Kami memadukan pembelajaran teori, praktik industri, literasi digital, dan penguatan karakter seperti pembiasaan nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, serta tanggung jawab dalam satu ekosistem pendidikan yang saling terhubung,” tuturnya.
Menurutnya, pendekatan tersebut membuat peserta didik tidak hanya dipersiapkan untuk siap kerja, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, komunikatif, kreatif, dan semangat belajar sepanjang hayat.
“Siswa tidak hanya dibekali keterampilan melalui praktik yang berkolaborasi dengan dunia industri, tetapi juga diarahkan agar siap melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Di sisi lain, nilai etika Islam, kepemimpinan, dan kepedulian sosial terus ditanamkan agar lulusan mampu menjadi pribadi yang produktif, adaptif, dan memberikan kontribusi positif bagi agama, masyarakat, dan bangsa,” jelasnya.
Ketua BPKPMB, Bapak H. Heru Purnama, S.Ag., M.Pd., menyampaikan bahwa melalui terselenggaranya Purna Siswa Terpadu tahun ini, Perguruan Muhammadiyah Brondong ingin menyampaikan pesan besar kepada masyarakat luas: bahwa kondisi masyarakat, bangsa, dan negara saat ini sangat membutuhkan generasi penerus yang memiliki karakter kuat dan berintegritas.
Menurut beliau, karakter seperti tanggung jawab, keadilan, empati, tahan banting, progresif, serta inovatif tidak dapat terbentuk secara instan, melainkan harus ditanamkan sejak dini melalui sinergi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial.
Beliau juga menegaskan bahwa negara memiliki kewajiban untuk memprioritaskan pendidikan, baik dari sisi kualitas pembelajaran, peningkatan kompetensi tenaga pendidik, maupun penyediaan sarana dan prasarana yang layak.
“Investasi terbesar bangsa sesungguhnya adalah pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan. Pendidikan gratis dan berkualitas jauh lebih penting sebagai fondasi masa depan dibanding sekadar program makan gratis,” tegas beliau.
Melalui konsep pendidikan terpadu ini, Perguruan Muhammadiyah Brondong menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar perpindahan jenjang sekolah, melainkan perjalanan panjang dalam membentuk manusia yang utuh. Dari ruang kelas MI yang mengajarkan dasar adab dan pembiasaan, berlanjut ke MTs yang memperkuat karakter dan budaya belajar, hingga SMK yang mematangkan kompetensi dan kesiapan menghadapi dunia nyata.
Purna Siswa Terpadu tahun ini bukan hanya menjadi momen pelepasan siswa, tetapi juga menjadi simbol kuatnya sinergi tiga lembaga Muhammadiyah Brondong dalam mencetak generasi yang tumbuh dalam nilai, budaya, dan visi pendidikan yang sama.
Penulis: Agus Arif Priyanto, Editor: Ma’in