Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

Surat Cinta untuk Para Kader

surat cinta untuk kader

“Kalau ingin menjadi kader ideolog Muhammadiyah, harus diawali dengan berIslam yang benar”, papar Sholihin Fanani ketika menyampaikan tema Ideologi dan Khittah Perjuangan Muhammadiyah, 30/09/2017. Materi ini disampaikan dalam Pelatihan Peningkatan Kualitas Mubaligh selama tiga hari yang akan berakhir Ahad, 1/10/2017.

Ketua Majelis Tabligh Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur ini menguraikan, 5 resep bermuhammadiyah secara Kaffah, yaitu :

pertama, Ber-Islam dengan Kaaffah. Muhammadiyah dari awal selalu membawa misi mengembalikan ajaran Islam sesuai tuntunan alquran dan assunnah. Dimanapun berada, menjadi apapun posisinya, seorang kader dituntut menampilkan misi ini. Menampilkan jati diri kaaffah memang tidak mudah, dibutuhkan “azzam” yang kuat. Amalan-amalan sunnah yang mulai banyak ditinggalkan hendaknya terus digelorakan, karena itu menjadi bagian paket syahadatain. Seorang kader termasuk mubaligh Muhammadiyah hendaknya bertabligh sesuai dengan bahasa komunitas tertentu, berarti dituntut memahami dan menyelami budaya dan kebiasaan setempat.
Kedua, Berdakwah istiqomah. Mujahid Muhammadiyah tidak mengenal putus asa. KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah telah mencontohkan kepada kita, tentang arti keihlasan, keteguhan dan kesabaran. Tekanan, intimidasi, cacian, olokan bahkan usiran sudah pernah dialami. Sungguh naif, kalau kita generasi penerusnya bergerak biasa-biasa saja. Kita patur mengapresiasi para pejiang Muhammadiyah di tingkat ranting yang juga pernah mengalami tekanan dan gangguan. Kita juga menyaksikan, ada beberapa kawan Muhammadiyah, awalnya semangat, akhirnya futur (putuis asa), dan mundur mencari posisi aman.

Ketiga, Berorganisasi dengan Setia. Kekuatan gerakan Muhammadiyah dibangun bukan kekuatan personal, tapi kekuatan sistem. Maka siapapun yang mengaku anggota Muhamadiyah, harus taat kepada qoidah yang berlaku, termasuk di Amal usaha Muhammadiyah. Sekali kita menghianati aturan, maka lambat laun organisasi tidak berwibawa. Tugas semua kader, pimpinan menjaga marwa Persyarikatan. Di Muhammadiyah tidak mengenal kerajaan-kerajaan kecil, semua dalam satu komando seorang Pimpinan.

Keempat, Berjuang dengan Sekuat Tenaga. Berani terjun di gelanggang dakwah Muhammadiyah, berarti menghibahkan semua yang dimiliki, baik dana, tenaga, fikiran dan mental. Maka ukuran kekuatan seorang anggota, bukan bergantung pada hasil semata, tapi kesungguhan dan tekad yang membaja. Maka yang bisa mengukur, sejauh mana seorang anggota, kader berjuang dengan tenaga, terletak pada diri sendiri.

Kelima, Berkorban Segenap Jiwa dan Raga. “Ketika merintis banyak yang diam, ketika besar mulai merapat”, itulah cerita yang sering disampaikan aktifis-aktifis dalam memulai mendirikan Amal Usaha Muhammadiyah. Gejala seperti hanya akan dilakukan oleh orang-orang oportunis, yang hanya melihat madu. Pejuang sejati, setiap perjalanan dakwah adalah kesenangan dan kebahagiaan. Ketenangan dan ketentraman akan diperoleh bagi mereka yang berjuang dengan sepenuh jiwa dan raga. (Mohamad Su’ud)

0
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Muhammadiyah Lamongan Berhasil Galang Dana Terbesar Untuk Solidaritas Rohingnya

Next Post

Buka Sebagian Pintu Rezeki, Perkuat Jalinan Silaturahmi

Read next
0
Share