Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

Tiga Level Orang Berpuasa: Dari Menahan Lapar hingga Menjaga Hati

MuhammadiyahLamongan.com- Ramadan bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah ruhani yang menguji kualitas pengendalian diri, kedewasaan akhlak, serta kejernihan hati seorang Muslim. Dalam khazanah keilmuan Islam, para ulama menjelaskan bahwa puasa memiliki tingkatan. Salah satu penjelasan yang masyhur datang dari Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah, seorang ulama besar mazhab Hanbali, yang membagi puasa ke dalam tiga level: puasa orang awam, puasa orang khusus, dan puasa orang yang lebih khusus.

Pembagian ini memberi perspektif mendalam bahwa esensi puasa tidak berhenti pada aspek lahiriah, melainkan menyentuh dimensi moral dan spiritual.

Tingkatan pertama adalah shaum al-‘umum artinya puasa orang awam. Ibnu Qudamah menjelaskan:
فأما صوم العموم فهو كف البطن والفرج عن قضاء الشهوة
“Puasa orang awam hanya sebatas menahan perut dan kemaluan dari keinginan syahwatnya.”

Pada level ini, puasa dipahami sebagai menahan makan, minum, dan hubungan suami istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Secara fikih, inilah batas minimal sahnya puasa sebagaimana di firmankan Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 tentang kewajiban berpuasa agar meraih derajat takwa.

Namun, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa tidak sedikit orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga semata. Peringatan ini menegaskan bahwa pemenuhan aspek lahiriah saja belum cukup untuk menghadirkan nilai takwa.

Tingkatan kedua adalah shaum al-khushush artinya puasa orang khusus. Beliau menjelaskan:
وأما صوم الخصوص فهو كف النظر واللسان واليد والرجل والسمع والبصر وسائر الجوارح عن الآثام
“Sedangkan puasa orang khusus yaitu menahan pandangan, lisan, tangan, kaki, pendengaran, penglihatan dan seluruh anggota badan dari segala perbuatan dosa.”

Di level ini, puasa tidak hanya menahan syahwat jasmani, tetapi juga mengendalikan seluruh anggota tubuh dari kemaksiatan. Pandangan dijaga dari yang haram, lisan ditahan dari ghibah, fitnah, dan dusta, tangan serta kaki dihindarkan dari tindakan zalim, dan telinga dijauhkan dari mendengar hal yang dilarang.

Ibnu Qudamah menambahkan tentang adab puasa orang khusus:
من آداب صوم الخصوص غض البصر وحفظ اللسان عما يؤذى من كلام محرم أو مكروه أو ما لا يفيد وحراسة باقي الجوارح
“Termasuk adab puasa orang yang khusus adalah menahan pandangan dari yang haram, menjaga lisan dari ucapan yang menyakiti, baik yang haram, makruh, maupun yang tidak bermanfaat, serta menjaga seluruh anggota badan dari perbuatan dosa.”

Penegasan ini selaras dengan sabda Nabi ﷺ bahwa apabila seseorang berpuasa, hendaknya ia tidak berkata kotor dan tidak berbuat bodoh. Artinya, puasa menjadi latihan pengendalian diri secara menyeluruh.

Tingkatan tertinggi adalah shaum khushush al-khushush artinya puasa orang yang lebih khusus. Beliau menjelaskan:
وأما صوم خصوص الخصوص فهو صوم القلب عن الهمم الدنيئة والأفكار المبعدة عن الله تعالى وكفه عما سوى الله تعالى بالكلية
“Adapun puasa orang yang lebih khusus yaitu puasanya hati dari keinginan-keinginan yang hina serta pikiran-pikiran yang dapat menjauhkan diri dari Allah, dan menahannya secara total dari segala sesuatu selain Allah Ta’ala.”

Inilah level spiritual yang paling dalam. Puasa tidak hanya menjaga fisik dan perilaku, tetapi juga membersihkan hati dari riya’, hasad, sombong, cinta dunia berlebihan, dan segala lintasan pikiran yang menjauhkan dari Allah.

Pada tahap ini, hati sepenuhnya terarah kepada Allah. Orientasi hidup tidak lagi didominasi kepentingan duniawi, melainkan keridhaan Ilahi. Puasa menjadi sarana tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa yang hakiki.

Refleksi Ramadan: di Level Mana Kita Berada?

Pembagian tingkatan puasa ini menjadi cermin reflektif bagi setiap Muslim. Apakah puasa kita masih sebatas menahan lapar? Sudahkah lisan, pandangan, dan perilaku ikut berpuasa? Ataukah hati juga telah kita jaga dari penyakit-penyakit batin?

Ramadan sejatinya bukan hanya rutinitas tahunan, tetapi proses peningkatan kualitas diri. Dari puasa lahiriah menuju puasa akhlak, hingga akhirnya puasa hati. Inilah perjalanan spiritual yang ditawarkan bulan suci.

Dengan memahami tiga level puasa sebagaimana dijelaskan Ibnu Qudamah, umat Islam diharapkan tidak berhenti pada formalitas ibadah. Sebaliknya, puasa menjadi jalan pembentukan pribadi bertakwa, berintegritas, dan berakhlak mulia. Nilai yang relevan bukan hanya selama Ramadan, tetapi juga sepanjang kehidupan.

Penulis: Faridatul Hidayati,S.Ag, Editor: Ma’in

0
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Puasa Doxing

Next Post

Darul Arqam SMA Muhammadiyah 10 Sugio Dibuka, Kepala Sekolah Tekankan Kejujuran dan Pengamalan Ilmu

Read next

Sejarah Itu Tidak Murah

(Kilas Balik Perjalanan Panjang Studi S-3) Bagian 1 Pradana Boy ZTF Dosen Universitas Muhammadiyah Malang PADA…
0
Share