Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

Ibadah Qurban dan Transformasi Sosial

MuhammadiyahLamongan.comAllahu Akbar – Allahu Akbar – Walillahilhamdu. Idul Adha dan Peristiwa Qurban yang dirayakan oleh muslim sedunia merupakan ibadah yang mengandung banyak makna yang kita imani sebagai upaya untuk merunut kembali sejarah perjuangan Nabi Ibrahim AS dan Putra Tercintanya Nabi Ismail AS dalam ikhtiar dan perjuangan-Nya menegakkan Aqidah dan Syariat Islam.

Sebagai salah satu upaya kita untuk mengambil nilai Ketauhidan dalam ibadah qurban, kita perlu kembali menapaki jejak sejarah Nabi Ibrahim AS “Bapak para Nabi” yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih anak kandung yang sangat dicintai-Nya sebagai ujian kepada Nabi Ibrahim AS kala itu untuk menguji Ketauhidan-Nya. Hal ini menegaskan pesan simbolik yang dihadirkan Tuhan kepada kita semua, bahwa tauhid kepada Allah SWT harus murni, dan tidak boleh dibarengi dengan perselingkuhan Teologis dengan hal yang diluar-Nya.

Ibadah Tahunan Umat Islam ini juga merupakan refleksi atas catatan sejarah perjalanan kebajikan Nabi kita yang meberi pesan bahwa peristiwa Qurban tidak hanya bersifat monoteistik tetapi juga humanistik. Peristiwa Qurban Nabi Ibrahim AS menjadi teladan bagi kita untuk mentransformasikan pesan keagamaan ke dalam aksi nyata perjuangan kemanusiaan. Menurut Jalaluddin Rakhmat (1995), Ibadah Qurban mencerminkan dengan tegas pesan solidaritas islam, mendekatkan diri kepada saudara-saudara kita yang kekurangan. Dengan berqurban, kita mendekatkan diri kepada yang fakir. Bilamana kita diberikan kelebihan harta dan kenikmatan, kita wajib berbagi kenikmataan yang kita peroleh kepada oranglain.

Ibadah Qurban pula  mengajak mereka yang mustadh’afin untuk merasakan kenyang seperti yang kita alami. Bagi Ali Syar’ati (1997), ritual Qurban bukan hanya bermakna manusia mendekatkan diri kepada Tuhan-Nya, akan tetapi juga mendekatkan diri kepada sesama, terutama mereka yang miskin dan terpinggirkan. Kita hendak menarik spirit kemanusiaan di dalam Agama Islam agar nilai di dalamnya hidup di tengah-tengah kita. Dengan menghadirkan agama yang tidak hanya menjadi media bagi kita sebagai individu untuk berkomunikasi kepada tuhan, namun dengan menghadirkan nilai-nilai yang terkandung dalam agama sebagai bagian untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan. Paling tidak Ibadah Qurban mempunyai tiga nilai yang perlu kemudian kita maknai bersama.

Pertama, simbol ketakwaan manusia atas perintah sang khalik. Ibadah qurban pada dasarnya menjadi simbol kepasrahan dan penyerahan diri manusia secara utuh kepada sang pencipta yang digambarkan oleh Nabi Ibrahim mengorbankan Nabi Ismail AS. Kemudian, kita dapat meneladani proses ibadah qurban ini sebagai wujud kepatuhan dan ketaatan kita dalam rangka meningkatkan derajat ketakwaan kita sebagai hamba.

Kedua, mengambil makna bahwa yang dikorbankan adalah sifat kebinatangan kita. Dilatarbelakangi dari pemerdekaan kita sebagai hamba dari segala karakter kebinatangan yang ada pada diri manusia. Kita seringkali dekat dengan sifat rakus, tamak, ingin memperkaya diri sendiri tanpa memperdulikan kesulitan yang dirasakan orang lain di sekitar kita, Ketauhidan murni yang bebas dari penghambaan terhadap hasrat dan harta benda yang kita miliki kemudian perlu untuk kita maknai dan kita tanamkan sebagai landasan Teologis pribadi kita.

Ketiga adalah nilai solidaritas sosial, ibadah qurban yang kita lakukan kemudian kita letakkan dalam konteks penegakkan nilai-nilai kemanusiaan, seperti sikap adil, toleran dan saling mengasihi tanpa dilatar belakangi kepentingan diluar nilai profetis agama. Corak keberagamaan yang terlalu teosentris dan lepas dari problem sosial-kemanusiaan banyak melahirkan problem sosial. Pesan yang terkandung dalam ibadah qurban harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi umat, seperti perwujudan keadilan sosial, kesejahteraan, keadilan, dan persaudaraan sesama muslim.

Dengan ini kita dapat memakai ibadah qurban sebagai satu metode untuk mendapatkan kedekatan, karena pelakunya kita sebut qarib dan lebih dekat lagi kita sebut aqrob atau akrab, yang sebelumnya belum dekat dengan kita menjadi dekat dengan kita. Wallahu a’lam bish-shawab. (*)

Penulis : Alif Ferdiansyah (PC IMM Lamongan)

0
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Cooking Class MPM, Ini Harapan Ketua PCA Brondong

Next Post

Pentingnya Meningkatkan Ketakwaan, Pesan Khotbah Shalat Idul Adha PRM Tunjungmekar

Read next
0
Share