Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

+1 202 555 0180

Have a question, comment, or concern? Our dedicated team of experts is ready to hear and assist you. Reach us through our social media, phone, or live chat.

Idul Adha: Momentum Meningkatkan Ibadah dan Berwirausaha

Oleh: Ma’in, S.HI

Beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan Zulhijjah pada kalender Hijriyah 1445. Bulan Zulhijjah dikenal sebagai bulan haji atau kurban. Bulan dimana umat Islam di dunia melaksanakan ibadah haji di kota suci Mekah. Seluruh jamaah haji mempersiapkan segala bentuk persiapan diri mulai dari fisik, ruhiyah, dan materi. Untuk fisik perlu menjaga kebugaran dan kesehatan diri, peningkatan ruhiyah dengan cara mendekatkan diri kepada Allah melalui memperbanyak ibadah dan doa, dan mempersiapkan materi untuk memenuhi biaya selama melaksanakan ibadah haji di kota suci Mekah dan bekal untuk pemenuhan kebutuhan keluarga yang ditinggalkan.

Di dalam bulan Zulhijjah disamping terdapat syariat melaksanakan ibadah haji, juga ada tuntunan untuk melaksanakan ibadah kurban. Istilah hari kurban tidak lepas dari peristiwa historis kenabian Ibrahim dan Ismail alaihissalam yang sangat monumental. Hal penting dari Hari Raya Idul Adha atau Idul Kurban bagi umat Islam yaitu untuk selalu berupaya menghayati dan mengaktualisasikan makna esensi dan pesan-pesan luhur ibadah kurban dalam Islam, baik sebagai hamba Allah maupun sebagai khalifatullah untuk menghadirkan kemaslahatan dan kesejahteraan bagi sesama.

Kegiatan penyembelihan hewan kurban yang dilaksanakan hingga saat ini merupakan implementasi dari kepatuhan Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS dalam menjalankan perintah Allah. Perintah Allah kepada Nabi Ibrahim AS agar menyembelih putranya sebagaimana dikisahkan dalam Alquran surat As-Shaffat ayat 102. Dalam ayat tersebut terkandung makna yang dalam untuk menyampaikan pesan dan pelajaran kepada manusia, bahwa betapapun besarnya cinta seseorang kepada anak atau apapun yang dimilikinya, sesungguhnya bukanlah sesuatu yang berarti bila Allah telah menghendaki. Pada hakikatnya apapun yang dimiliki dan dikuasai oleh manusia sejatinya adalah sekedar titipan Allah SWT. Karenanya kerelahan dan mahabbah Allah yang sesungguhnya paling berarti dalam hidup dan kehidupan seorang muslim. Disebutkan juga dalam akhir kisah tersebut, Allah SWT memberikan pengganti seekor domba yang besar atas keberhasilan Nabi Ibrahim dan Ismail dalam melaksanakan perintah dan ujian yang amat berat itu.

Peristiwa monumental ini juga mengandung pelajaran, bahwa Allah SWT sangat sayang dan menjunjung tinggi harkat, martabat dan jiwa manusia, sehingga Allah sama sekali tidak memperkenankan manusia dijadikan kurban untuk penyembahan atau sebagai tumbal demi kepentingan apapun yang pada akhirnya mengakibatkan tercucurnya darah atau lenyapnya nyawa manusia. Dengan demikian seorang muslim sejati adalah yang memiliki kecintaan dan kepatuhan mutlak kepada Allah SWT melebihi cintanya kepada siapapun dan apapun. Kecintaan manusia kepada siapapun dan apapun selalu didasari karena kecintaannya kepada Allah SWT.

Perjuangan Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail AS hendaknya dapat dijadikan sarana introspeksi diri atas ketaatan manusia dalam memegang teguh syariat Islam untuk selanjutnya ritualitas ibadah kurban diharapkan mampu membentuk pribadi muslim yang peduli terhadap masyarakat dan lingkungan sekelilingnya. Sebagai manusia yang siap berkorban dan mengulurkan tangan untuk membantu dan meringankan penderitaan kepada sesama, terutama kepada umat yang lemah dan membutuhkan (kaum dhu’afa dan masakin).

Diantara dari hikmah melaksanakan ibadah kurban yaitu pertama, sebagai bentuk kecintaan hamba kepada Allah SWT atas pemberian karunia dan rahmat-Nya yang tidak terhitung nilai dan jumlahnya yang dianugerahkan kepada setiap hamba-Nya dalam setiap jengkal kehidupan manusia, kedua, ibadah kurban juga sebagai perintah bagi setiap manusia untuk mengorbankan sifat egois, sikap mementingkan diri sendiri, rakus dan serakah, yang dibarengi dengan kecintaan kepada Allah diwujudkan dalam bentuk solidaritas sosial, ketiga, hewan kurban akan menjadi saksi amal ibadah di hari kiamat nanti. Hewan yang dikurbankan akan datang berwujud amal kebaikan yang pada giliranya akan menyelamatkan nasib tuanya di hari kiamat.

Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah yang artinya “Tidak ada amalan yang dikerjakan anak Adam ketika hari raya kurban yang lebih dicintai oleh Allah Azza Wa Jalla dari mengalirkan darah, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan datang dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya dan bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darah tersebut akan sampai kepada Allah sebelum jatuh ke tanah, maka perbaguslah jiwa kalian dengannya”.

Maka berdasarkan sejarah monumental peristiwa ibadah haji dan kurban serta hikmah yang dapat kita peroleh jika kita melaksanakannya, oleh sebab itu mari kita songsong dan aktualisasikan nila-nilai luhur syariat dalam kehidupan sehari-hari, khususnya ibadah penyembelihan hewan kurban yang sebentar lagi akan dilaksanakan yakni pada tanggal 10, 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijjah 1445 Hijriyah dengan menyisihan sebagian rezeki kita untuk ikut serta meringankan beban orang yang lemah dan menghidupkan rasa solidaritas dan empati sosial antar sesama di hari raya kurban.

 

Melalui maklumat Nomor 1/MLM/I.0/E/2024 tentang penetapan hasil hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijjah 1445 Hijriyah yang dibacakan oleh Sayuti, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan Hari Raya Idul Adha 1445 Hijriyah jatuh pada hari Senin, 17 Juni 2024 Masehi. Keputusan ini didasarkan pada perhitungan hisab hakiki wujudul hilal, yang menentukan bahwa tanggal 1 Zulhijjah 1445 Hijriyah jatuh pada hari Sabtu, 8 Juni 2024 Masehi. Dengan demikian, Hari Arafah atau 9 Zulhijjah jatuh pada hari Ahad, 16 Juni 2024 Masehi, diikuti dengan Idul Adha pada keesokan harinya.

Penetapan ini memberikan panduan bagi umat Islam di Indonesia untuk mempersiapkan perayaan Idul Adha dengan tepat. Metode hisab hakiki wujudul hilal yang digunakan oleh Muhammadiyah melibatkan perhitungan posisi bulan saat matahari terbenam, yang menunjukkan bahwa tanggal 29 Zulkaidah 1445 Hijriyah, bulan berada di bawah ufuk sehingga bulan Zulkaidah disempurnakan menjadi 30 hari. Keputusan ini diharapkan dapat membantu umat Islam dalam merencanakan ibadah kurban dan kegiatan lainnya terkait Idul Adha.

Penulis berharap bulan Zulhijjah tidak hanya sebagai momentum penting pelaksanakan ibadah haji dan ibadah hari raya kurban atau Idul Adha saja, melainkan juga sebagai momentum penting bagi tumbuh dan berkembangnya para pengusaha di bidang peternakan khususnya binatang yang digunakan untuk hewan kurban semisal Domba, Kambing, Sapi. Mengingat kebutuhan akan hewan kurban untuk kegiatan Idul Adha sangatlah banyak dan menjanjikan sebagai upaya meningkatkan taraf kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Merujuk dari data yang dilansir oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lamongan menjelang Idul Adha 1445 Hijriyah menyatakan bahwa ketersediaan hewan kurban di Lamogan aman. Tidak hanya ketersediaan, kesehatan hewan kurban juga dinyatakan aman. “Ketersediaan hewan kurban tahun ini dinyatakan aman. Yang mana perhitungannya ialah mengacu pada kebutuhan kurban pada tahun lalu yakni 2023,” tutur Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lamongan Shofiah Nurhayati, Senin (13/5/2024) di Kantor Dinkeswan Lamongan.

Tercatat pada tahun 2024 populasi sapi di Kabupaten Lamongan ada 96.632 ekor. Dari jumlah tersebut, terdapat sapi yang siap dipotong (dewasa, jantan, memenuhi kriteria kesehatan) sebanyak 8.074 ekor, dengan cadangan 3.234 ekor. Begitupun pada populasi kambing ada 94.635 ekor, sedang jumlah kambing yang siap dipotong ada 15.772 ekor dengan 1.276 ekor cadangan. Sedangkan populasi domba di Lamongan ada 70.238 ekor, dari jumlah tersebut terdapat 11.000 ekor yang siap dipotong.

Mengacu data oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lamongan diatas, terdapat potensi yang sangat menjanjikan bagi masyarakat untuk memulai atau bahkan menumbuh kembangkan usaha bisnis ternaknya. Dalam rangka meningkatkan Sumber Daya Manusia di bidang peternakan, ada beberapa yang perlu diperhatikan diantaranya yaitu keilmuan dalam beternak. Ilmu peternakan adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang bersangkutan dengan usaha atau bisnis manusia untuk beternak atau mengusahakan peternakan dari berbagai jenis hewan untuk memperoleh manfaat dari padanya. Dengan kata lain beternak memiliki arti dan maksud secara luas yaitu memelihara, merawat, mengatur kehidupan, perkawinan, kelahiran, penjagaan kesehatan serta pula penggunaannya dari hewan yang diusahakan.

Ada beberapa istilah dalam peternakan, dalam Bab I pasal 1 Undang-Undang Nomor 6 tahun 1967, menjelaskan tentang ketentuan-ketentuan pokok peternakan dan kesehatan hewan sebagai berikut, pertama, Ternak adalah hewan piara yang kehidupannya yakni mengenai tempat, perkembangbiakan serta manfaatnya diatur dan diawasi oleh manusia dan dipelihara khusus sebagai penghasil bahan-bahan dan jasa-jasa yang berguna bagi kepentingan hidup manusia, kedua, Peternak adalah orang atau badan hukum dan atau buruh peternakan yang mata pencahariannya sebagian atau seluruhnya bersumber pada peternakan.

Ketiga, Peternakan adalah pengusahaan atau pembudidayaan atau pemeliharaan ternak dengan segala fasilitas penunjang bagi kehidupan ternak, keempat, Peternakan murni adalah cara peternakan dimana perkembangbiakan ternak-ternaknya dilakukan dengan jalan pemacekan antara ternak atau hewan yang termasuk dalam satu rumpun, kelima, Perusahaan peternakan adalah usaha peternakan yang dilakukan pada tempat tertentu serta perkembangbiakannya dan manfaatnya diatur dan diawasi oleh peternak-peternak, dan keenam adalah Kelas ternak adalah sekumpulan atau sekelompok bangsa-bangsa ternak yang dibentuk dan dikembangkan mula-mula disuatu daerah tertentu.

Disamping mengetahui keilmuan dalam beternaka, maka selanjutnya yakni kemampun memilih jenis hewan kurban khususnya domba dan kambing yang sangat berpotensi untuk sebagai usaha di bidang peternakan. Jenis domba yang sangat potensial sebagai penghasil daging atau bisa disebut ternak penggemukan domba. Baik yang berupa domba lokal yang sudah turun temurun diternakkan di dalam negeri, ataupun domba hasil persilangan antara domba dari negara lain dengan domba dan, atau domba impor yang sudah mulai banyak diternakkan di dalam negeri. Jenis-jenis domba berpotensial sebagai domba penghasil daging, yakni antara lain; Domba Ekor Tipis, Domba Ekor Gemuk, Domba Garut, Domba Batur (Domas) dan Domba Merino.

Adapun kambing yang berpotensial sebagai kambing pedaging secara umum memiliki karakteristik badan besar, kompak dan padat, cepat dewasa, pertumbuhannya baik, dan bagian tubuhnya tampak berisi. Berikut jenis-jenis kambing pedaging yang banyak diternak di dalam negeri, yakni antara lain; Kambing Kacang, Kambing Boer, Kambing Etawa, Kambing Boerka (Burja), Kambing Boerawa (Saburai), Kambing Bligon, dan Kambing Kosta.

Domba dan kambing yang dianggap sangat potensial diatas demi kepentingan manusia akan kebutuhan daging darinya dan lain sebagainya, maka manusia melakukan penjinakkan (domestikasi). Domestikasi adalah suatu keadaan dimana manusia ikut campur mengawasi atau mengontrol secara terus menerus dalam meningkatkan perubahan biologis seperti yang diharapkan.

Yang terakhir yakni menejemen dalam beternak khususnya ternak domba dan kambing, agar peternakan domba dan kambing dapat beroperasi dengan lancar dan menghasilkan keuntungan yang maksimal diperlukan pengetahuan tentang menejemen usaha. Menejemen usaha di peternakan domba dan kambing berguna untuk memaksimalkan keuntungan sekaligus meminimalkan kemungkinan munculnya masalah atau kendala selama usaha berjalan. Sehingga peternakan dapat terus berkembang tanpa ada hambatan berarti. Menejemen usaha beternak domba dan kambing meliputi semua hal yang berkaitan dengan peternakan, dari menejemen permodalan, menejemen produksi, sumber daya manusia, perawatan ternak, hingga pada pemasaran domba dan kambing.

Semoga dengan momentum Idul Adha 1445 Hijriyah mampu menggerakkan kita untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita, termasuk ibadah penyembelihan hewan kurban baik sapi, kambing maupun domba. Sebagai bentuk rasa syukur atas karunia-Nya dan bukti kecintaan hamba kepada Allah SWT. Sekaligus momentum Idul Adha juga bisa sebagai sarana meninjau kembali potensi ekonomi dan usaha yang dapat dilakukan oleh setiap orang khususnya beternak sapi, domba, dan kambing yang sangat menjanjikan guna meningkatkan kesejahteraan.

1
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Inilah Pemenang Lomba Muballighat PCA Pucuk

Next Post

Sinergitas Antar Mahasiswa dalam Studi Banding ORMAWA UMLA dan STIQSI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Read next

Sejarah Itu Tidak Murah

(Kilas Balik Perjalanan Panjang Studi S-3) Bagian 1 Pradana Boy ZTF Dosen Universitas Muhammadiyah Malang PADA…

Merasa Berjasa

Cerita salah satu aktifis saat ngobrol di warung kopi depan kantor Muhamamdiyah Lamongan, akhir pekan Oktober…
0
Share